Minggu, 31 Agustus 2014

Koin Untuk pernikahanku..


By on 01.42


Ditulis Oleh : Saan.

Baca juga : Saanisme.blogspot.com



Ini berawal dari karya William shakespeare. Semua orang pasti tahu apa yang kumaksud.

Ia itu..

kisah cinta Romeo dan juliet. Kisah cinta sepasang kekasih yang sangat melegenda. Bahkan sampai kekampungku yang ada dipelosok negeri ini.


animasi Romeo dan juliet
Aku terinspirasi dari karya William shakespeare, bukan kisah cintanyanya romeo dan juliet yang akan kubahas di tulisan ini.

Tapi yang aku bahasa dalam tulisan ini adalah  ketenarannya. Aku juga ingin kisah cintaku juga melegenda.

Entah itu,seperti Romeo dan juliet atau seperti Khadijah dan Muhamad SAW, atau seperti Fatimah dan Ali. Setidak-tidaknya diketahui oleh anak cucuku. Walau itu hanya berangkat dari sebuah mimpi dan khayalan.



Jadi apa hubungannya antara Koin dan cinta.. Ahh..Rasanya tak ada hubungannya. Tapi bagiku semua itu bisa-bisa saja. Aku yakin dan percaya, tak ada yang tak mungkin dibawah langit tuhan ini, jika kita mau berusaha dan berdoa. Itu adalah perinsip hidupku.


***
Ini berawal dari uang koin yang berserakan di sekre gagasan. Tempat ku bernaung selama ini. Ini adalah rumah keduaku. Ku habiskan waktuku disisni, siang dan malam aku selalu disini. Kecuali jika ada urusan penting atau mau beli makanan baru aku keluar.

Enggan rasanya aku meninggalkan tempat ini. Terlalu indah dan berjasa bagiku. Disinilah tempatku belajar tanpa dipungut biaya. Tulisan ini juga hasil didikan gagasan.

Tapi maaf, tulisanku masih amburadul, jika dibandingkan dengan junior apalagi senior-seniorku. Maklum aku masih anak baru, anak kemaren sore, degil. Ini alasanku tetap cinta kepada gagasan.
Aku teringat dengan pepatah yang cukup jadul. Dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Betul apa yang disampaikan oleh pepatah ini. Kebenarannya sulit untuk dibantahkan.

Suatu sore. Aku melihat beberapa uang koin yang berserakan diruangan redaksi gagasan. Mataku hanya menoleh sebentar saja. Sebab aku tak bernafsu untuk memungut uang itu, karena nilainya tidak terlalu tinggi. Lagi pula itu bukan milikku.

Hari terus terus berlalu, seminggu kedepan sudah menjadi hari ini. Aku masih melihat uang receh itu diantara tumpukkan buku yang disusun tak beraturan, si receh dibiarkan tanpa ada yang peduli. Seolah ia adalah duit yang terlantar. Ia seperti anak tiri yang tak dipedulikan.


Sebagai manusia. Rasa ibaku muncul. Kudekati uang itu. Lalu kutenteng kemana-kamana.


“Ini duit siapa. Dimeja Redaksi??,”.

“Berapa..??,” tanya salah seorang kawan sejawatku.

“Tujuh ratus,” kataku.

“Oo..ambil aja la..kalau mau. Tak ada yang punya tu..,” jawabnya pongah.


Ahh..sombong. Karena itu duit receh kau tak peduli kawan. Engkau diskriminasi dan materialis. 
Andai uang receh ini bisa berbicara, mungkin ia akan curhat kepada ku. Air matanya akan berlinang. 
Membasahi burung garuda yang ada di uang receh itu.

Akibatnya si garuda kebanjiran dan kedinginan, akibat tangisan itu. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Jika itu terjadi akan kupeluk kau erat uang receh, air matamu yang bercucuran akan kuhapus mesra dengan kain lap yang ada disekre ini. Sebab tak ada tisu disini. Kami belum punya uang lebih untuk membelinya.


Mendengar jawaban itu, aku segera mencari botol bekas. Kemudian botol itu kubersihkan dengan air. Setelah dakinya hilang, kukeringkan botol itu. Kemudian kumasukkan sireceh kedalam botol itu. Ia kini menjadi tawananku. Jika tak ada yang menebus ia adalah milikku.


Botol tempat uang receh itu kutarok rapi diruangan redaksi, tempat kami mengetik dan menyelesaikan berita. Sebab ruangan itu higenis tak ada yang boleh masuk kecuali orang gagasan. Aku yakin uang itu tak akan hilang, sebab tak ada tangan-tangan jahil disana.


Beberapa hari kemudian uang itu terus bertambah. Sireceh yang malang itu terus  berkumpul. Aku tak tahu apakah mereka membuat persatuan uang receh didalam botol sana. Itu urusan mereka.
Jika ada waktu luang, uang itu aku keluarkan dari dalam botol. Kemudian ku hitung berulang kali.Hanya sekedar untuk tahu saja apakah tabunganku bertambah atau berkurang.


Iya syukur kalau bertambah banyak. Kalau bertambah sedikit ia tak masalah, itu rezeki mereka. Tapi alahamdulillah dari hari-kehari tak pernah berkurang. 


Suatu ketika diakhir bulan juli 2014 silam. Tabunganku itu terpakai. Sireceh itu kugunakan untuk menyambung hidup. Setelah kuhitung jumlahnya sekitar tiga belas ribu rupiah. Nominal yang cukup menggiurkan, bagi anak kuliahan terutama diujung bulan sperti ini.

Dengan berat hati uang itu kupakai. Sedih rasanya, saat itu kawan..!!. Aku sangat sedih..
Aku sedih bukan karena membuka tabungan itu, tapi karena duit sudah tidak ada.


****

Waktu terus berlalu. Kebiasaanku mengumpulkan uang receh terus berlanjut. Aku mengumpulkannya dengan cara yang unik. Uang-uang receh itu kadang kumasukkan didalam botol bekas minyak rambut. Tujuannya biar terlihat menarik.



Kali ini aku memang sungguh-sungguh ingin mengumpulkan uang receh. Seperti hari-hari sebelumnya. Hampir tiap sore aku menyetorkan uang receh. Sudah dipastiakn juga jumlah uangnya akan ikut bertambah.


Hari-hariku terus kulalui dengan berbagai rutinitas. Entah itu kuliah, olahraga, begadang, atau menulis. Tapi tak jarang juga kuisi dengan bermain batu domino dengan rekan sejawat. Ia sekaligus silaturrahmi dan minum kopi gratis.


Tepat pada pagi minggu dibulan yang sama, selesai shalat subuh aku duduk menikmati udara pagi. Segelas kopi panas lengkap dngan sebuah novel turut menemaniku pagi itu.


Udara pagi memang segar. Makanya sebisa mungkin aku usahakan bangun pagi, kadang hanya sekedar untuk melihat matahari pagi. Bagiku pagi adalah menenangkan, ia juga menghangatkan, ia selalu menyuguhkanku dengan secangkir inspirasi tiada henti.


Itulah arti sebuah pagi bagi diriku...makanya hampir tiap malam aku selalu merindukannya.
Oh ya.. Pagi itu aku baca sebuah novel X. Dalam novel itu ada sebuah  kutipan yang berkesan dihatiku “ aku ingin cinta kita seperti Romeo dan julia”. Aku heran kenapa kisah cinta romeo dan julia sering disebut orang. Kisah cinta mereka melegenda  hingga kepenjuru dunia.


Sejenak aku membisu dipagi itu. Aku iri dengan kisah cinta mereka. Aku iri karena ketenarannya saja. Tapi aku paham itu hanya sebuah cerita.

Aku yakin. Aku tak ada bedanya dengan tokoh sejarah yang pernah mengukir sejarah dimasa lalu. Mereka juga punya pikiran, hati dan nafsu. Sama seperti aku. Bahkan mereka pernah dianggap gila pada zamannya, tapi ini tidak boleh berlaku pada diriku.. Aku juga iri dengan mereka. Aku iri dengan ketenaran mereka. Aku iri dengan karya mereka yang bisa mengubah dunia.


Aku tahu. Aku adalah manusia. Aku adalah pelaku sejarah saat ini. Mungkin jika aku sungguh-sungguh, aku bisa menyaingi  tokoh filosofi dunia sekelas thales, aristoteles dan tokoh filosofi lainnya. Aku percaya tak ada yang tak mungkin.
*****

Ahh...

Itu terlalu berlebihan. Aku bukan seorang ilmuan apalagi fiilsuf. Aku hanya ingin kisah cintaku 
terkenal seperti Romeo dan julia. Apa yang bisa kuperbuat. Bahkan sampai saat ini tak ada satupun cewek yang mau padaku.


Aku ingat kawan..!!


Aku punya uang receh. Itu salah satu aset berharga yang pernah kumiliki. Tapi apa hubungannya dengan cinta. Apakah aku akan pacari uang itu, biar terkenal seluruh dunia. Itu mustahil. Aku masih normal..!!.

Aku berpikir sejenak.

“ Uang receh-cinta, Uang receh-cinta, Uang receh-cinta,” tak ada hubungannya, tak ada kolerasinya.
Oo..aku lupa.


Saat ini aku tak sendiri, ada kopi, ada pagi. Mereka berdua tertawa melihatku yang bingung saat itu.
Aku menceritakan pergelokan yang ada di jiwaku, kepada kedua sahabatku itu.


Dengan enteng mereka bertanya kepadaku, “yakin engkau punya duit receh..?,’’.


“Yakinn!!,” jawabku.


“Mulai pagi ini, kau terus menabung tanpa henti. Yang perlu kau tabung hanya uang receh saja. Sebab itu yang kau miliki. Itu pula yang kau sanggup,”

Aku hanya mangut-mangut saja..mendengar penjelasan dari sahabatku itu.


“Jadi hubungannya uang receh dengan cinta apa..?,” tanyaku penasaran.


“Nanti..ketika kau akan menikah. Jadikan sebagian uang receh itu sebagai biaya nikahmu. Sebagiannya lagi jadikan sebagai maharnya,” ujar mereka.


“ Ahh..bencanda kau pagi dan kopi,” ujarku protes.

“Pakai duit banyak aja tak ada cewek yang mau. Apalagi pakai si receh,” jawabku sebal.

“Kau kan ingin kisah cintamu terkenal. Itulah yang bisa membuat kisah cintamu terkenal. Karena aku yakin semua wanita yang kau temui akan menolak..!!,” jelas kopi dengan logis.

“Kau kan Cuma ingin terkenal. Tidak ingin berhasil..” tambah pagi.
Aku hanya mengangguk diam dan membisu.
 ****

Bersambung...




 Cerita hanya ini Fiktif belaka...

About Syed Faizan Ali

Faizan is a 17 year old young guy who is blessed with the art of Blogging,He love to Blog day in and day out,He is a Website Designer and a Certified Graphics Designer.

0 komentar:

Posting Komentar

Test Footer 1

POLITIK RIAU “HARI INI”