Ini berawal dari karya William shakespeare. Semua orang
pasti tahu apa yang kumaksud.
Ia itu..
kisah cinta Romeo dan juliet. Kisah cinta sepasang kekasih yang
sangat melegenda. Bahkan sampai kekampungku yang ada dipelosok negeri ini.
![]() |
| animasi Romeo dan juliet |
Tapi yang aku bahasa dalam tulisan ini adalah ketenarannya. Aku juga ingin kisah cintaku juga melegenda.
Entah itu,seperti Romeo dan juliet atau seperti Khadijah dan Muhamad SAW, atau seperti Fatimah dan Ali. Setidak-tidaknya diketahui oleh anak cucuku. Walau itu hanya berangkat dari sebuah mimpi dan khayalan.
Jadi apa hubungannya antara Koin dan cinta.. Ahh..Rasanya
tak ada hubungannya. Tapi bagiku semua itu bisa-bisa saja. Aku yakin dan
percaya, tak ada yang tak mungkin dibawah langit tuhan ini, jika kita mau
berusaha dan berdoa. Itu adalah perinsip hidupku.
***
Ini berawal dari uang koin yang berserakan di sekre gagasan. Tempat ku bernaung selama ini. Ini adalah rumah keduaku. Ku habiskan waktuku disisni, siang dan malam aku selalu disini. Kecuali jika ada urusan penting atau mau beli makanan baru aku keluar.
Ini berawal dari uang koin yang berserakan di sekre gagasan. Tempat ku bernaung selama ini. Ini adalah rumah keduaku. Ku habiskan waktuku disisni, siang dan malam aku selalu disini. Kecuali jika ada urusan penting atau mau beli makanan baru aku keluar.
Enggan rasanya aku meninggalkan tempat ini. Terlalu indah
dan berjasa bagiku. Disinilah tempatku belajar tanpa dipungut biaya. Tulisan
ini juga hasil didikan gagasan.
Tapi maaf, tulisanku masih amburadul, jika dibandingkan
dengan junior apalagi senior-seniorku. Maklum aku masih anak baru, anak kemaren
sore, degil. Ini alasanku tetap cinta kepada gagasan.
Aku teringat dengan pepatah yang cukup jadul. Dikit-dikit
lama-lama jadi bukit. Betul apa yang disampaikan oleh pepatah ini. Kebenarannya
sulit untuk dibantahkan.
Suatu sore. Aku melihat beberapa uang koin yang berserakan
diruangan redaksi gagasan. Mataku hanya menoleh sebentar saja. Sebab aku tak
bernafsu untuk memungut uang itu, karena nilainya tidak terlalu tinggi. Lagi
pula itu bukan milikku.
Hari terus terus berlalu, seminggu kedepan sudah menjadi
hari ini. Aku masih melihat uang receh itu diantara tumpukkan buku yang disusun
tak beraturan, si receh dibiarkan tanpa ada yang peduli. Seolah ia adalah duit
yang terlantar. Ia seperti anak tiri yang tak dipedulikan.
Sebagai manusia. Rasa ibaku muncul. Kudekati uang itu. Lalu
kutenteng kemana-kamana.
“Ini duit siapa. Dimeja Redaksi??,”.
“Berapa..??,” tanya salah seorang kawan sejawatku.
“Tujuh ratus,” kataku.
“Oo..ambil aja la..kalau mau. Tak ada yang punya tu..,”
jawabnya pongah.
Ahh..sombong. Karena itu duit receh kau tak peduli kawan.
Engkau diskriminasi dan materialis.
Andai uang receh ini bisa berbicara,
mungkin ia akan curhat kepada ku. Air matanya akan berlinang.
Membasahi burung
garuda yang ada di uang receh itu.
Akibatnya si garuda kebanjiran dan kedinginan, akibat
tangisan itu. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Jika itu terjadi akan kupeluk
kau erat uang receh, air matamu yang bercucuran akan kuhapus mesra dengan kain
lap yang ada disekre ini. Sebab tak ada tisu disini. Kami belum punya uang
lebih untuk membelinya.
Mendengar jawaban itu, aku segera mencari botol bekas.
Kemudian botol itu kubersihkan dengan air. Setelah dakinya hilang, kukeringkan
botol itu. Kemudian kumasukkan sireceh kedalam botol itu. Ia kini menjadi
tawananku. Jika tak ada yang menebus ia adalah milikku.
Botol tempat uang receh itu kutarok rapi diruangan redaksi,
tempat kami mengetik dan menyelesaikan berita. Sebab ruangan itu higenis tak
ada yang boleh masuk kecuali orang gagasan. Aku yakin uang itu tak akan hilang,
sebab tak ada tangan-tangan jahil disana.
Beberapa hari kemudian uang itu terus bertambah. Sireceh
yang malang itu terus berkumpul. Aku tak
tahu apakah mereka membuat persatuan uang receh didalam botol sana. Itu urusan
mereka.
Jika ada waktu luang, uang itu aku keluarkan dari dalam
botol. Kemudian ku hitung berulang kali.Hanya sekedar untuk tahu saja apakah
tabunganku bertambah atau berkurang.
Iya syukur kalau bertambah banyak. Kalau bertambah sedikit
ia tak masalah, itu rezeki mereka. Tapi alahamdulillah dari hari-kehari tak
pernah berkurang.
Suatu ketika diakhir bulan juli 2014 silam. Tabunganku itu
terpakai. Sireceh itu kugunakan untuk menyambung hidup. Setelah kuhitung
jumlahnya sekitar tiga belas ribu rupiah. Nominal yang cukup menggiurkan, bagi
anak kuliahan terutama diujung bulan sperti ini.
Dengan berat hati uang itu kupakai. Sedih rasanya, saat itu
kawan..!!. Aku sangat sedih..
Aku sedih bukan karena membuka tabungan itu, tapi karena
duit sudah tidak ada.
****
Waktu terus berlalu. Kebiasaanku mengumpulkan uang receh terus berlanjut. Aku mengumpulkannya dengan cara yang unik. Uang-uang receh itu kadang kumasukkan didalam botol bekas minyak rambut. Tujuannya biar terlihat menarik.
Waktu terus berlalu. Kebiasaanku mengumpulkan uang receh terus berlanjut. Aku mengumpulkannya dengan cara yang unik. Uang-uang receh itu kadang kumasukkan didalam botol bekas minyak rambut. Tujuannya biar terlihat menarik.
Kali ini aku memang sungguh-sungguh ingin mengumpulkan uang
receh. Seperti hari-hari sebelumnya. Hampir tiap sore aku menyetorkan uang
receh. Sudah dipastiakn juga jumlah uangnya akan ikut bertambah.
Hari-hariku terus kulalui dengan berbagai rutinitas. Entah
itu kuliah, olahraga, begadang, atau menulis. Tapi tak jarang juga kuisi dengan
bermain batu domino dengan rekan sejawat. Ia sekaligus silaturrahmi dan minum
kopi gratis.
Tepat pada pagi minggu dibulan yang sama, selesai shalat
subuh aku duduk menikmati udara pagi. Segelas kopi panas lengkap dngan sebuah
novel turut menemaniku pagi itu.
Udara pagi memang segar. Makanya sebisa mungkin aku usahakan
bangun pagi, kadang hanya sekedar untuk melihat matahari pagi. Bagiku pagi
adalah menenangkan, ia juga menghangatkan, ia selalu menyuguhkanku dengan
secangkir inspirasi tiada henti.
Itulah arti sebuah pagi bagi diriku...makanya hampir tiap
malam aku selalu merindukannya.
Oh ya.. Pagi itu aku baca sebuah novel X. Dalam novel itu
ada sebuah kutipan yang berkesan
dihatiku “ aku ingin cinta kita seperti Romeo dan julia”. Aku heran kenapa
kisah cinta romeo dan julia sering disebut orang. Kisah cinta mereka melegenda hingga kepenjuru dunia.
Sejenak aku membisu dipagi itu. Aku iri dengan kisah cinta
mereka. Aku iri karena ketenarannya saja. Tapi aku paham itu hanya sebuah
cerita.
Aku yakin. Aku tak ada bedanya dengan tokoh sejarah yang
pernah mengukir sejarah dimasa lalu. Mereka juga punya pikiran, hati dan nafsu.
Sama seperti aku. Bahkan mereka pernah dianggap gila pada zamannya, tapi ini
tidak boleh berlaku pada diriku.. Aku juga iri dengan mereka. Aku iri dengan
ketenaran mereka. Aku iri dengan karya mereka yang bisa mengubah dunia.
Aku tahu. Aku adalah manusia. Aku adalah pelaku sejarah saat
ini. Mungkin jika aku sungguh-sungguh, aku bisa menyaingi tokoh filosofi dunia sekelas thales,
aristoteles dan tokoh filosofi lainnya. Aku percaya tak ada yang tak mungkin.
*****
Ahh...
Itu terlalu berlebihan. Aku bukan seorang ilmuan apalagi
fiilsuf. Aku hanya ingin kisah cintaku
terkenal seperti Romeo dan julia. Apa
yang bisa kuperbuat. Bahkan sampai saat ini tak ada satupun cewek yang mau
padaku.
Aku ingat kawan..!!
Aku punya uang receh. Itu salah satu aset berharga yang
pernah kumiliki. Tapi apa hubungannya dengan cinta. Apakah aku akan pacari uang
itu, biar terkenal seluruh dunia. Itu mustahil. Aku masih normal..!!.
Aku berpikir sejenak.
“ Uang receh-cinta, Uang receh-cinta, Uang receh-cinta,” tak
ada hubungannya, tak ada kolerasinya.
Oo..aku lupa.
Saat ini aku tak sendiri, ada kopi, ada pagi. Mereka berdua
tertawa melihatku yang bingung saat itu.
Aku menceritakan pergelokan yang ada di jiwaku, kepada kedua
sahabatku itu.
Dengan enteng mereka bertanya kepadaku, “yakin engkau punya
duit receh..?,’’.
“Yakinn!!,” jawabku.
“Mulai pagi ini, kau terus menabung tanpa henti. Yang perlu
kau tabung hanya uang receh saja. Sebab itu yang kau miliki. Itu pula yang kau
sanggup,”
Aku hanya mangut-mangut saja..mendengar penjelasan dari
sahabatku itu.
“Jadi hubungannya uang receh dengan cinta apa..?,” tanyaku
penasaran.
“Nanti..ketika kau akan menikah. Jadikan sebagian uang receh
itu sebagai biaya nikahmu. Sebagiannya lagi jadikan sebagai maharnya,” ujar
mereka.
“ Ahh..bencanda kau pagi dan kopi,” ujarku protes.
“Pakai duit banyak aja tak ada cewek yang mau. Apalagi pakai
si receh,” jawabku sebal.
“Kau kan ingin kisah cintamu terkenal. Itulah yang bisa
membuat kisah cintamu terkenal. Karena aku yakin semua wanita yang kau temui
akan menolak..!!,” jelas kopi dengan logis.
“Kau kan Cuma ingin terkenal. Tidak ingin berhasil..” tambah
pagi.
Aku hanya mengangguk diam dan membisu.
****
Bersambung...
Bersambung...
Cerita hanya ini Fiktif belaka...

0 komentar:
Posting Komentar