Selasa, 29 April 2014

Dua Mei, Hari Duka Bagi Guru Bantu di Riau


By on 21.09



Dua mei hanya menghitung hari lagi. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebentar lagi akan di peringati. Biasanya, upacara bendera dan sederat acara serimonial akan diadakan oleh pihak pemerintah. Tujuannya hanya untuk memeriahkan dua mei, sebagai hari pendidikan nasional. Sebagian guru dan insan pendidikan akan turut memeriahkan hari ini. Semakin meriah acara serimonialnya, ukuran keberhasilan dalam bidang pendidikan akan tercapai, seperti itulah mensed yang tertanam di benak kita. 

Oke.!, kita tak akan berbicara masalah serimonial dan dua mei. Tapi ada hal yang lebih urgen yang harus kita carikan solusinya bersama-sama, terutama bagi para pengambil kebijakan yang ada dinegri ini ( pemerintah terkait). Beberapa hari belakangan setelah pemberitaan “atuk” yang kontroversi mulai meredam. 

Pemberitaan tentang guru bantu di negri ini mulai dimuat di media massa. Guru bantu..!!. Entah dari mana istilah ini datang dan entah siapa yang mencetuskannya. Beritanya memang tak” sehangat” berita “atuk” yang kontoversi. Juga tak enak dan tak sedap untuk di diskusikan. Diwarung kopi dan dikalangan masyarakat juga jarang terdengar.

Guru bantu, ternyata pendidik di Riau ini sudah hampir empat bulan tidak menerima gaji. Realita memalukan ini bertolak belakang dengan brand Riau yang kaya. Entah kenapa permasalahan tunjangan dan gaji guru honor ini diperlambat. Harusnya tidak ada alasan untuk menunda pembayaran gaji guru honor ini, ada yang tidak beres di pemerintahan ini. Ini persoalan hak dan hajat hidup orang banyak. Jika pemerintah tidak segera membayar dan sengaja memperlamabat, ini tak jauh bedanya dengan kejahatan sosial. Pada hal kewajiban untuk membayar gaji guru bantu ini adalah tanggung jawab pemerintah provinsi Riau.

Hampir di semua kabupaten dan kota di provinsi ini permaslahan keterlambatan menerima gaji dialamai oleh guru bantu. Di kota pekanbaru yang menjadi ibu kota provinsi Riau saja hampir enam ribu guru bantu yang terlentar. Apalagi di kabupaten lainnya, entah itu di kuansing dan lainnya. Pada hal menurut Sekretaris daerah provinsi(Sekda prov) Riau Zaini Ismail, keterlambatan ini hanya permasalahan administrasi saja. Ini permasalahan sepele dan memalukan. Hanya karena “ administarsi” hampir ribuan pendidik turut terzolimi.

Apakah para pemerinrtah tidak “tahu”, bahwa guru bantu juga manusia. Mereka juga butuh makan, minum dan tempat tinggal. Makanya tak heran di media lokal Riau, baik online maupun cetak banyak guru bantu yang mengeluh. Bahkan ada yang harus meninggalkan rumah kontrakan karena belum gajian. Ini sangat memalukan, menyedihkan..!!. Apakah guru bantu harus berdemo, melakukan aksi seperti mahaiswa.

Memang slogan guru adalah “ pahlawan tanpa tanda jasa”, mungkin para guru bantu saat ini sedang diuji. Realita ini adalah ujian bagi ribuan guru bantu yang ada di Riau saat ini. Tapi kita juga tak berbicara ujian dan cobaan. Sebab hampir semua guru bantu tersebut bergantung hidup di gaji honor yang mereka terima. Mereka juga punya keluarga, punya anak dan isteri. Apakah mereka harus mencari pekerjaan ganda. Seharusnya ini tak terjadi.

Saya tekan kan lagi, kita tidak berbicara cobaan dan ujian untuk guru bantu dari tuhan. Tapi kita berbicara sistem yang tak”becus”, dan kita berbicara keadilan. Ada permasalahan apa sebetulnya yang terjadi di negri kaya ini. Apakah pejabat terkait yang duduk disana tidak berkompeten. Atau ada hubungan dengan pemilu beberapa minggu silam. Kita juga tak tahu entah apa yang terjadi sebetulnya. Yang jelas ada ketidak “ becusan” pihak pemerintah.

Jika kejadian ini terus terjadi berulang kali, ini tak bisa dimaafkan, ini juga tak bisa dibiarkan. Ini sama saja artinya pemerintah menyuruh guru bantu untuk meminjam uang kepada rentenir. Saya yakin jika ini terjadi berulang kali dan berlangsung dalam waktu lama. Kita tak usah bermimpi tentang pendididkan yang berkualitas, tak usah berharap generasi muda Riau akan cerdas. Sebab, guru sang pendidik kurang gizi dan kelaparan. Mustahil mereka bisa mengajarkan siswa dengan maksimal dengan kondisi “ perut yang keroncongan”.

Minimal walau mereka bisa bertahan secara fisik, namun saya yakin pikirannya akan “ tergadaikan”. Sebab mereka juga punya kebutuhan lainnya, Dampaknya juga akan berakibat fatal, tekanan psikologi pasti akan dirasakan oleh sang guru.

 Dalam pemberitaan media lokal Riau yang saya baca beberapa hari silam, ada guru bantu yang harus meninggalkan kontrakannya karena tak sanggup bayar tunggakan sebab gaji mereka belum keluar. Ini sangat menyedihkan. Seharusnya, ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemerintah terkait. Ini bukanlah hal sepele, sebab permasalahan in i menyangkut nyawa ribuan orang. Ada banyak nyawa yang bergantung dari gaji honor guru bantu.

Beritaderita dan kesengsaraan guru bant sering kita baca, ada yang terpaksa meminjam duit kesana-kesini untuk menyambung hidup keluarga. Keluhan-demi keluhan terlontar dari mulut mereka. Hal ini tentu wajar. Wajar dong..!! seorang guru mengeluh karena tak di gaji hingga berbulan-bula. Mereka mau hidup dari mana?

Kecuali, bagi guru bantu yang punya pekerjaan sampingan. Kesulitan mungkin sedikit lebih ringan dibandingkan dengan mereka  guru bantu yang hanya bertumpu hidup dari pekerjaan seorang guru.

Apalagi saat ini adalah musim ujian nasional, beban seorang guru semakin berlipat ganda. Sebab selain memikirkan masalah ekonomi mereka juga harus memikirkan masalah kelulusan siswanya. Sebab jika siswa banyak yang tak lulus, “ancaman” akan datang. Mereka (guru bantu) akan berhadapan dengan orang tua  siswa. Bukan hanya itu, atasan akan marah. Sebab sekolah dan kabupaten kota yang mereka pimpin banyak siswa yang tak lulus ujian nasional. Yang disalahkan, guru lagi..!!.

Beban dan tekanan hidup tentu semakin berat. Tapi sekali lagi ini memang “cobaan” akibat punya pemimpin yang tak berkompeten. Satu hal, bagi pemerinrtah pembuat kebijakan, seharusnya mereka bisa memposisikan diri. Bagaimana rasanya kalau mereka bekerja gajinya ditahan hingga berbulan-bulan. Ok lah karena gajinya lumayan besar tentu masih banyak aset dan tabungan, tapi tidak dengan guru bantu. Gaji mereka tak seberapa jika dibandingkan dengan pembuat kebijakan ( pemerintah terkait).

Pada hal Riau katanya negri melayu, masyarakatnya penuh toleransi dan saling menghargai. Tapi untuk hal ini nampaknya tak ada toleransi dan mengahargai, apalagi untuk memposisikan diri sebagai guru bantu. Nampaknya jauh panggang dari api.

Satu hal, yang harus diperhatikan guru bantu saat ini. Jangan jadikan guru bantu sebagai pekerjaan pokok, atau setidaknya janganlah bergantung dengan satu pekerjaan (guru bantu). Usahakanlah ada pekerja tambahan, yang tak membutuhkan waktu banyak. Entah itu berjualan kecil-kecilan atau lainnya. Atau dari pihak sekolah dan persatuan guru bantu (oranisasi guru bantu) adakan koperasi, modalnya tentu dari guru bantu itu.

Manfaatnya jika hal ini terulang lagi, minimal dampaknya bisa diminmalisir. Tak ada lagi guru bantu yang kehilangan tempta tinggal, karena tak sanggup bayar tunggakan rumah. Tapi diantara guru bantu harus kreattif, harus ada yang berinisiatif untuk mendirikan wadah ini.Tapi itu hanya solusi “sepihak” untuk mencegah hal ini terulang. Tapi pemerintah terkait seharusnya di beri sangsi yang tegas. Sebab ini indikasi pemerintah (terkait) tidak melakukan tugas mereka secara maksimal. Jadi kerja mereka selama ini apa?. Hal ini perlu di pertanyakan. Sebab ini adalah “kejahatan” sosial. Memang mereka (pemerintah terkait) tak membunuh seorang pun guru bantu, tak ada pembantaian secara fisik terjadi. Tak ada yang bersimpah darah dan luka fisiknya.

Tapi “membunuh”, menekan, psikologi guru bantu, keluarga dan anaknya, karena mereka harus pindah rumah sebab tak sanggup bayar kontrakan akibat gaji  yang ditunggu tak kunjung keluar. Keluarga dan anak mereka memang tak bersimbah darah, tak seperti pembantaian yang dilakukan oleh zionis yahudi yang ada di palestina.

Pada hal kalau kita mau jujur tugas guru pembantu dan guru tetap (PNS) tak ada beda yang mencolok. Mereka sama-sama mengajar siswa. Tapi ada diskriminasi terhadap jasa mereka. Guru bantu dan guru tetap (PNS) ada jarak diantara mereka. Hal semacam ini seharusnya tak boleh terjadi dilembaga pendidikan.

Pada hal, secara pendidikan (akademis) guru bantu adalah tenaga pengajar muda,  rata-rata mereka menyelesaikan S-1 secara reguler. Tak seperti guru angkatan tua (PNS) yang sudah lama, kebanyakan mereka kuliah sambil bekerja ( menjadi guru). Kuliahnya seminggu sekali. Ini harus menjadi pertimbangan juga. Guru bantu itu rata-rata orang muda yang masih energik. Tapi kenapa mereka diperlakukan seperti itu.

Guru bantu memang nasib mu malang untuk saat ini kalau kita lihat belum ada solusi kongkret dari pemerintah. Pihak pemerintah hanya bisa berjanji akan menyelesaikan dalam waktu dekat. Tanpa meyebutkankan kapan batas waktu terakhir untuk memebayar uang “jerih” bagi mereka. Guru bantu seolah-olah di gantung dengan harapan. Tanpa tahu entah harus sampai kapan mereka terus menunggu.

Demo juga bukan solusi terbaik. Mogok belajar juga tak layak dilakukan sebab geloar pahlawan tanpa tanda jasa ada dipundak kalian. Hanya ada satu solusi, segera bayar gaji guru bantu. Hanya itulah satu-satunya solusi yang tepat, menurut sya.Namun, setelah gaji guru bantu dibayar. Pemerintah terkait jangan sok “bersih” seolah-olah mereka tak melakukan keslahan. Pemerintah harus intropeksi, kalau perlu tunjukkkan ketegasannya dengan memeberi sangsi pada pemerintah terkait. Sebab ini adalah “tragedi” sosial yang melibatkan orang banyak.

Jika pemerintah tak membayar secara cepat dan tepat. Apakah dua mei mendatang yang katanya hari pendidikan nasional, ditunda. Jawabannya tidak..?. Tapi saya yakin hari pendidikan nasional akan sedikit berbeda. Tak hanya dimeriahkan dengan upacara bendera dan serangkaian acara serimonial.Namun dua mei mendatang jika gaji guru bantu belum dibayar saya yakin Riau akan di hiasi dengan serangkaian duka guru-guru bantu. Entah, berapa banyak lagi guru bantu yang harus pindah dari kontrakan. Entah berapa lama lagi mereka harus menunggu, dan entah kepada siapa lagi mereka harus meminjam.

Mungkin, mereka hanya bisa berdoa pada tuhan pemilik alam semesta ini. Agar gaji mereka segera dibayar. Hutang- hutang mereka segera lunas. Anak dan istri mereka punya tempat tinggal dan kembali kekontrakan. Hanya untaian doa yang bisa mereka perbuat. Sebab untuk saat ini pemerintah “tuli” tak mendengar teriakan hati mereka, pemerintah “buta” tak melihat duka yang mereka rasakan. Pemerintah “ tebal muka” buktinya mereka tak malu, pada hal gaji guru bantu telah mereka tahan  berbulan-bulan.Tapi saya yakin, “ Wahai guru bantu. Pemerintah mungkin tak terlalu memperdulikan hal ini.Tapi tuhan pemilik alam semesta tahu akan kezoliman ini.Ia tak akan menzolimi, yakinlah bahwa tuhan tak akan menelantarkan kalian para guru bantu.

About Syed Faizan Ali

Faizan is a 17 year old young guy who is blessed with the art of Blogging,He love to Blog day in and day out,He is a Website Designer and a Certified Graphics Designer.

0 komentar:

Posting Komentar

Test Footer 1

POLITIK RIAU “HARI INI”