Dua mei hanya menghitung hari lagi. Hari Pendidikan Nasional
(Hardiknas) sebentar lagi akan di peringati. Biasanya, upacara bendera dan
sederat acara serimonial akan diadakan oleh pihak pemerintah. Tujuannya hanya
untuk memeriahkan dua mei, sebagai hari pendidikan nasional. Sebagian guru dan
insan pendidikan akan turut memeriahkan hari ini. Semakin meriah acara
serimonialnya, ukuran keberhasilan dalam bidang pendidikan akan tercapai,
seperti itulah mensed yang tertanam di benak kita.
Oke.!, kita tak akan berbicara masalah serimonial dan dua
mei. Tapi ada hal yang lebih urgen yang harus kita carikan solusinya
bersama-sama, terutama bagi para pengambil kebijakan yang ada dinegri ini (
pemerintah terkait). Beberapa hari belakangan setelah pemberitaan “atuk” yang
kontroversi mulai meredam.
Pemberitaan tentang guru bantu di negri ini mulai dimuat di media
massa. Guru bantu..!!. Entah dari mana istilah ini datang dan entah siapa yang
mencetuskannya. Beritanya memang tak” sehangat” berita “atuk” yang kontoversi.
Juga tak enak dan tak sedap untuk di diskusikan. Diwarung kopi dan dikalangan
masyarakat juga jarang terdengar.
Guru bantu, ternyata pendidik di Riau ini sudah hampir empat
bulan tidak menerima gaji. Realita memalukan ini bertolak belakang dengan brand Riau yang kaya. Entah kenapa
permasalahan tunjangan dan gaji guru honor ini diperlambat. Harusnya tidak ada
alasan untuk menunda pembayaran gaji guru honor ini, ada yang tidak beres di
pemerintahan ini. Ini persoalan hak dan hajat hidup orang banyak. Jika pemerintah
tidak segera membayar dan sengaja memperlamabat, ini tak jauh bedanya dengan
kejahatan sosial. Pada hal kewajiban untuk membayar gaji guru bantu ini adalah
tanggung jawab pemerintah provinsi Riau.
Hampir di semua kabupaten dan kota di provinsi ini permaslahan
keterlambatan menerima gaji dialamai oleh guru bantu. Di kota pekanbaru yang
menjadi ibu kota provinsi Riau saja hampir enam ribu guru bantu yang terlentar.
Apalagi di kabupaten lainnya, entah itu di kuansing dan lainnya. Pada hal
menurut Sekretaris daerah provinsi(Sekda prov) Riau
Zaini Ismail, keterlambatan ini hanya permasalahan administrasi saja. Ini
permasalahan sepele dan memalukan. Hanya karena “ administarsi” hampir ribuan
pendidik turut terzolimi.
Apakah para pemerinrtah tidak “tahu”, bahwa guru
bantu juga manusia. Mereka juga butuh makan, minum dan tempat tinggal. Makanya
tak heran di media lokal Riau, baik online maupun cetak banyak guru bantu yang
mengeluh. Bahkan ada yang harus meninggalkan rumah kontrakan karena belum
gajian. Ini sangat memalukan, menyedihkan..!!. Apakah guru bantu harus berdemo,
melakukan aksi seperti mahaiswa.
Memang slogan guru adalah “ pahlawan tanpa tanda
jasa”, mungkin para guru bantu saat ini sedang diuji. Realita ini adalah ujian
bagi ribuan guru bantu yang ada di Riau saat ini. Tapi kita juga tak berbicara
ujian dan cobaan. Sebab hampir semua guru bantu tersebut bergantung hidup di
gaji honor yang mereka terima. Mereka juga punya keluarga, punya anak dan
isteri. Apakah mereka harus mencari pekerjaan ganda. Seharusnya ini tak
terjadi.
Saya tekan kan lagi, kita tidak berbicara cobaan
dan ujian untuk guru bantu dari tuhan. Tapi kita berbicara sistem yang
tak”becus”, dan kita berbicara keadilan. Ada permasalahan apa sebetulnya yang
terjadi di negri kaya ini. Apakah pejabat terkait yang duduk disana tidak
berkompeten. Atau ada hubungan dengan pemilu beberapa minggu silam. Kita juga
tak tahu entah apa yang terjadi sebetulnya. Yang jelas ada ketidak “ becusan”
pihak pemerintah.
Jika kejadian ini terus terjadi berulang kali,
ini tak bisa dimaafkan, ini juga tak bisa dibiarkan. Ini sama saja artinya
pemerintah menyuruh guru bantu untuk meminjam uang kepada rentenir. Saya yakin
jika ini terjadi berulang kali dan berlangsung dalam waktu lama. Kita tak usah
bermimpi tentang pendididkan yang berkualitas, tak usah berharap generasi muda
Riau akan cerdas. Sebab, guru sang pendidik kurang gizi dan kelaparan. Mustahil
mereka bisa mengajarkan siswa dengan maksimal dengan kondisi “ perut yang
keroncongan”.
Minimal walau mereka bisa bertahan secara fisik,
namun saya yakin pikirannya akan “ tergadaikan”. Sebab mereka juga punya
kebutuhan lainnya, Dampaknya juga akan berakibat fatal, tekanan psikologi pasti
akan dirasakan oleh sang guru.
Dalam pemberitaan
media lokal Riau yang saya baca beberapa hari silam, ada guru bantu yang harus
meninggalkan kontrakannya karena tak sanggup bayar tunggakan sebab gaji mereka
belum keluar. Ini sangat menyedihkan. Seharusnya, ini menjadi Pekerjaan Rumah
(PR) bagi pemerintah terkait. Ini bukanlah hal sepele, sebab permasalahan in i
menyangkut nyawa ribuan orang. Ada banyak nyawa yang bergantung dari gaji honor
guru bantu.
Beritaderita dan kesengsaraan guru bant sering
kita baca, ada yang terpaksa meminjam duit kesana-kesini untuk menyambung hidup
keluarga. Keluhan-demi keluhan terlontar dari mulut mereka. Hal ini tentu
wajar. Wajar dong..!! seorang guru mengeluh karena tak di gaji hingga
berbulan-bula. Mereka mau hidup dari mana?
Kecuali, bagi guru bantu yang punya pekerjaan
sampingan. Kesulitan mungkin sedikit lebih ringan dibandingkan dengan
mereka guru bantu yang hanya bertumpu
hidup dari pekerjaan seorang guru.
Apalagi saat ini adalah musim ujian nasional, beban
seorang guru semakin berlipat ganda. Sebab selain memikirkan masalah ekonomi
mereka juga harus memikirkan masalah kelulusan siswanya. Sebab jika siswa
banyak yang tak lulus, “ancaman” akan datang. Mereka (guru bantu) akan
berhadapan dengan orang tua siswa. Bukan
hanya itu, atasan akan marah. Sebab sekolah dan kabupaten kota yang mereka
pimpin banyak siswa yang tak lulus ujian nasional. Yang disalahkan, guru
lagi..!!.
Beban dan tekanan hidup tentu semakin berat.
Tapi sekali lagi ini memang “cobaan” akibat punya pemimpin yang tak
berkompeten. Satu hal, bagi pemerinrtah pembuat kebijakan, seharusnya mereka
bisa memposisikan diri. Bagaimana rasanya kalau mereka bekerja gajinya ditahan
hingga berbulan-bulan. Ok lah karena gajinya lumayan besar tentu masih banyak
aset dan tabungan, tapi tidak dengan guru bantu. Gaji mereka tak seberapa jika
dibandingkan dengan pembuat kebijakan ( pemerintah terkait).
Pada hal Riau katanya negri melayu,
masyarakatnya penuh toleransi dan saling menghargai. Tapi untuk hal ini
nampaknya tak ada toleransi dan mengahargai, apalagi untuk memposisikan diri
sebagai guru bantu. Nampaknya jauh panggang dari api.
Satu hal, yang harus diperhatikan guru bantu
saat ini. Jangan jadikan guru bantu sebagai pekerjaan pokok, atau setidaknya
janganlah bergantung dengan satu pekerjaan (guru bantu). Usahakanlah ada
pekerja tambahan, yang tak membutuhkan waktu banyak. Entah itu berjualan
kecil-kecilan atau lainnya. Atau dari pihak sekolah dan persatuan guru bantu
(oranisasi guru bantu) adakan koperasi, modalnya tentu dari guru bantu itu.
Manfaatnya jika hal ini terulang lagi, minimal
dampaknya bisa diminmalisir. Tak ada lagi guru bantu yang kehilangan tempta
tinggal, karena tak sanggup bayar tunggakan rumah. Tapi diantara guru bantu
harus kreattif, harus ada yang berinisiatif untuk mendirikan wadah ini.Tapi itu
hanya solusi “sepihak” untuk mencegah hal ini terulang. Tapi pemerintah terkait
seharusnya di beri sangsi yang tegas. Sebab ini indikasi pemerintah (terkait)
tidak melakukan tugas mereka secara maksimal. Jadi kerja mereka selama ini apa?.
Hal ini perlu di pertanyakan. Sebab ini adalah “kejahatan” sosial. Memang
mereka (pemerintah terkait) tak membunuh seorang pun guru bantu, tak ada
pembantaian secara fisik terjadi. Tak ada yang bersimpah darah dan luka
fisiknya.
Tapi “membunuh”, menekan, psikologi guru bantu,
keluarga dan anaknya, karena mereka harus pindah rumah sebab tak sanggup bayar
kontrakan akibat gaji yang ditunggu tak
kunjung keluar. Keluarga dan anak mereka memang tak bersimbah darah, tak
seperti pembantaian yang dilakukan oleh zionis yahudi yang ada di palestina.
Pada hal kalau kita mau jujur tugas guru
pembantu dan guru tetap (PNS) tak ada beda yang mencolok. Mereka sama-sama
mengajar siswa. Tapi ada diskriminasi terhadap jasa mereka. Guru bantu dan guru
tetap (PNS) ada jarak diantara mereka. Hal semacam ini seharusnya tak boleh
terjadi dilembaga pendidikan.
Pada hal, secara pendidikan (akademis) guru
bantu adalah tenaga pengajar muda,
rata-rata mereka menyelesaikan S-1 secara reguler. Tak seperti guru
angkatan tua (PNS) yang sudah lama, kebanyakan mereka kuliah sambil bekerja (
menjadi guru). Kuliahnya seminggu sekali. Ini harus menjadi pertimbangan juga.
Guru bantu itu rata-rata orang muda yang masih energik. Tapi kenapa mereka
diperlakukan seperti itu.
Guru bantu memang nasib mu malang untuk saat ini
kalau kita lihat belum ada solusi kongkret dari pemerintah. Pihak pemerintah
hanya bisa berjanji akan menyelesaikan dalam waktu dekat. Tanpa meyebutkankan
kapan batas waktu terakhir untuk memebayar uang “jerih” bagi mereka. Guru bantu
seolah-olah di gantung dengan harapan. Tanpa tahu entah harus sampai kapan
mereka terus menunggu.
Demo juga bukan solusi terbaik. Mogok belajar
juga tak layak dilakukan sebab geloar pahlawan tanpa tanda jasa ada dipundak
kalian. Hanya ada satu solusi, segera bayar gaji guru bantu. Hanya itulah
satu-satunya solusi yang tepat, menurut sya.Namun, setelah gaji guru bantu
dibayar. Pemerintah terkait jangan sok “bersih” seolah-olah mereka tak
melakukan keslahan. Pemerintah harus intropeksi, kalau perlu tunjukkkan
ketegasannya dengan memeberi sangsi pada pemerintah terkait. Sebab ini adalah
“tragedi” sosial yang melibatkan orang banyak.
Jika pemerintah tak membayar secara cepat dan
tepat. Apakah dua mei mendatang yang katanya hari pendidikan nasional, ditunda.
Jawabannya tidak..?. Tapi saya yakin hari pendidikan nasional akan sedikit
berbeda. Tak hanya dimeriahkan dengan upacara bendera dan serangkaian acara
serimonial.Namun dua mei mendatang jika gaji guru bantu belum dibayar saya
yakin Riau akan di hiasi dengan serangkaian duka guru-guru bantu. Entah, berapa
banyak lagi guru bantu yang harus pindah dari kontrakan. Entah berapa lama lagi
mereka harus menunggu, dan entah kepada siapa lagi mereka harus meminjam.
Mungkin, mereka hanya bisa berdoa pada tuhan
pemilik alam semesta ini. Agar gaji mereka segera dibayar. Hutang- hutang
mereka segera lunas. Anak dan istri mereka punya tempat tinggal dan kembali
kekontrakan. Hanya untaian doa yang bisa mereka perbuat. Sebab untuk saat ini
pemerintah “tuli” tak mendengar teriakan hati mereka, pemerintah “buta” tak
melihat duka yang mereka rasakan. Pemerintah “ tebal muka” buktinya mereka tak
malu, pada hal gaji guru bantu telah mereka tahan berbulan-bulan.Tapi saya yakin, “ Wahai guru
bantu. Pemerintah mungkin tak terlalu memperdulikan hal ini.Tapi tuhan pemilik
alam semesta tahu akan kezoliman ini.Ia tak akan menzolimi, yakinlah bahwa tuhan
tak akan menelantarkan kalian para guru bantu.

0 komentar:
Posting Komentar