Baca juga: Saanisme.blogspot.com
Ini malam yang berkesan bagiku. Bukan karena bintang yang berserak diangkasa sana. Bukan juga karena perjalanan indah yang bertabur debu menyesakkan hidung.
Tapi karena ucapan kawan ku. Ia ucapakan kawan baru ku. Yang baru kukenal beberapa hari belakanagan ini. Kami diperkenalkan oleh tuhan lewat Kuliah Kerja Nyata.
Ini malam yang berkesan bagiku. Bukan karena bintang yang berserak diangkasa sana. Bukan juga karena perjalanan indah yang bertabur debu menyesakkan hidung.
Tapi karena ucapan kawan ku. Ia ucapakan kawan baru ku. Yang baru kukenal beberapa hari belakanagan ini. Kami diperkenalkan oleh tuhan lewat Kuliah Kerja Nyata.
Kawan-kawanku menyebutnya KKN.
“Jangan lupakan perjalanan kita ini. Aku akan tulis,”
katanya.
“AKU AKAN TULIS,”
kata itu yang masih ku ingat.
Kata itu masih segar dibenakku. Aku takut kata itu lupa.
Sebab aku seorang pelupa, aku orang yang mudah melupakan sesuatu. Karena
ketakutan itulah aku coba untuk menulis. Biar kita bisa saling mengingatkan
kawan..!!.
Sebab setelah lama kutunggu belum juga kau tulis. Mungkin
engkau sibuk atau lupa dengan ucapanmu..
Inilah salah satu alasanku untuk menulis perjalanan kecilku
bersama kalian semua. Karena aku yakin waktu akan merampas itu semua dari benak
ku. Sebab waktu begitu pongah dan kejam. Ia telah banyak merampas kebahagian
orang yang sedang berbahagia.
***
Puasa tentu haus, lapar, capek..!!
Semua orang pasti
tahu akan hal ini. Tapi jauh lebih melelahkan jika melakukan perjalanan dibawah
terik matahari. Matahari seolah pongah dan congkak siang itu.Sebab cahayanya
telah berhasil mengusir kegelapan dari bumi tuhanku. Begitupun dengan rasa haus
dan lapar di tubuhku ini. Ia juga berhasil meluluh lantakkan perut dan
kerongkongan ini, hingga tubuh ini dikuasai oleh haus dan lapar. Aku tak bisa
berbuat banyak. Hanya minum dan makanlah yang bisa mengobati haus dan lapar
ini.
Tapi itu tak mungkin. Tak mungkin..!!. Ini adalah bulan
puasa.
Aku sudah baligh, di
agamaku jika sudah baligh tak berpuasa dibulan ramadhan itu berdosa. Aku
percaya dengan hal itu sebab keluargaku telah mendoktrin itu sejak aku balita.
Walau bagaimanapun aku harus berpuasa. Aku ingin mati disaat
puasa. Tidak.., itu hanya sebuah keinginan, yang kubungkus rapi di alam
angan-angan. Sebab dunia begitu indah, aku juga masih muda. Aku masih ingin
melihat dunia yang penuh warna.
***
Saat keberangkatan
Hp ku berdering. Ada sebuah panggilan masuk. Ku jawab panggilan itu
“Di PKM,” jawab ku.
“Disini la cepat. Udah banyak yang ngumpul, bentar lagi mau
berangkat,”.
Astagfirullah..
Aku lupa. Aku telat bangun. Sebab setelah shalat subuh tadi
aku tertidur pulas. Karna tadi malam aku begadang, aku baru tidur setelah ba’da
subuh. Begadang adalah bagian dari hidupku. Tak peduli itu bulan puasa atau
bulan purnama. Makanya badanku sedikit agak kurus.
Tanpa salam, kumatikan hp itu. Aku berlari, bergegas mencari
handuk lalu menuju kamar mandi. Yang ada di pojok bagian kanan tempat
tinggalku. Aku mandi terburu-buru.Kata kawanku itu adalah mandi koboi. Sebab
yang perlu disentuh air hanya mulut, muka, tangan kaki dan rambut.
Aku segera bergegas mencari pakaian yang layak pakai.Setelah
pakaian itu melekat ditubuh ini. Aku segera memanggil Suma (junior
organisasiku).
“Sum antarkan abang dekat lapangan bola yang ada di buluh
cina,” pinta ku.
“Iya bang... sekarang...,” ujar Suma dengan loghat Khasnya.
“Iya..’’
Singkat cerita..Beberapa menit kemudian aku sampai di tempat
yang hendak dituju. Kulihat saat itu hanya ada tiga orang teman KKN ku waktu
itu. Zul, Ambo dan Nia.
Jujur aku dongkol saat itu. Sebab aku di bohongi. Untung
saat itu aku masih ngantuk, jadi emosiku kalah saing oleh kantuk. Pada hal
kalau mereka nelpon dengan jujur aku bisa mandi layaknya manusia normal yang
ada dibelahan bumi ini.
Tapi mungkin ini sudah takdir. Sudah lah...!!. Aku tak lagi
memikirkan masalah mandi.Sebab kata kawanku, aku tak ada bedanya mandi dengan
tak mandi.
Entah berapa jam sudah aku menunggu keberangkatan ini.
Sekitar jam sembilan atau jam sepuluh kami bertolak menuju Pelalawan menggunakan
dua mobil, sebagian menggunakan sepeda motor. Desa tanjung Air hitam, kecamatan
kerumutan adalah lokasi yang hendak dituju. Rencanya dua bulan lamanya aku dan
kawan baruku akan tinggal disina.
Bagi ku ini perjalanan biasa. Tak ada yang istimewa. Tapi
aku tak tahu dengan kawan baruku. Entah apa yang mereka rasakan. Itu bukan
urusanku, aku tak akan memikirkan itu, sebab masih banyak yang harus ku
pikirkan. Lagi pula mereka bukan siapa-siapa, hanya teman baru..!!
Aku juga tak tahu
bagaimana sifat mereka, karakter mereka. Apakah mereka pongah, congkak dan
sombong, pikiran itu tak ada terlintas dibenakku. Sebagian dari mereka hanya
nama yang kutahu, sebagian lagi aku hanya kenal muka. Iya maklum..
****
Singkat cerita, setelah melakukan perjalanan yang melelahkan kami tiba di
ibukota kecamatan Kerumutan. Saat itu kira-kira sekitar jam tiga sore. Kami
adalah rombongan yang terakhir sampai. Dikecamatan kami berhenti sejenak untuk
mendengar ocehan pak camat dan dosen pembimbing. Aku sebut itu ocehan, sebab hanya
serimonial belaka. Hanya acara serah terima pada pihak kecamatan. Aku tak bisa
menafikkan acara itu, mungkin ada manfaatnya bagi sebagaian orang.
Diruangan itu kami hanya beberapa saat tak lebih dari
sepuluh menit, sebab kami telat. Kata Pak camat, tadi malam di kecamtan
Kerumutan hujan. Jadi untuk beberapa desa yang berada diujung tidak bisa
dilalui oleh mobil atau motor. Desa Tanjung air hitam adalah bagian dari desa
yang dimaksud. Solusinya rombongan kami harus keluar dari kecamatan itu, kami
harus kembali ke Ukui dan Sorek. Kami harus melewati jalan alternatif. Melewati
jalan ini butuh waktu sekitar lima jam lagi untuk sampai kedesa Tanjung air
hitam.
Aahh...ini perjalanan yang melelahkan.
Pada hal jika tidak turun hujan tadi malam. Kami hanya butuh
waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke desa Tanjung air hitam. Aku yakin
saat itu, sebagaian besar teman KKN ku banyak yang kecewa. Mungkin hati mereka
mengumpat dan mencaci. Tapi tidak denganku. Aku selalu berpikir dengan “logika
terbalik”. Aku menyebut ini berpikir anti-menstrim (diluar kebiasaan). Mungkin
sebagian orang diluar sana menyebut “logika terbalik” adalah positif thingking.
Aku tak mau menggunakan istilah positif thingkin. Aku ingin membuat kosa kata
baru.
Aku hanya kecewa pada pemerintah. Karena aku melihat tak ada
keadilan dalam bidang pembangunan. Pembangunan hanya dipusatkan di ibukota
Negara, ibukota Provinsi, ibukota Kabupaten, ibukota Kecamatan. Hanya di ibu
Kota..!!.
“Ahh..pemerintah tak
ada bedanya dengan kaum penjajah. Mereka menjajah dengan cara sistematis dan
struktural. Negara adalah penjajahan diabad modren” itu yang aku pikirkan
saat itu.
Maklum, aku kecewa...!! sebab jarak yang harusnya ditempuh
sekitar setengah jam, harus kami lalui sekitar lima jam lagi...!!!
“ Mana..Mana..
Keadilan..!!. Mana pembangunan yang selama ini kalian agung-agungkan politikus
bangsat..!!,’’.
Pada hal dikecamatan kerumutan sana ada banyak perusahaan
raksasa yang mengeksploitasi sumber daya alam bumi kerumutan.
“Akh..tak ada gunanya
aku marah. Aku hanya mahasiswa. Lagi pula aku sedang berpuasa...Itu buka
urusanku”.
Perjalanan terus kami lanjutkan. Kami terpaksa memutar arah.
Cahaya matahari semakin redup ia mulai bersahabat, sebab ia ingin meninggalkan
kesan baik dihari ini pada sang semesta. Rasa cemas juga tak dapat dielakkan.
Sebab matahari sudah ada di ufuk senja. Tak lama lagi beduk berbunyi tanda buka
puasa.
Hati ini kadang dihinggapi rasa bahagaia, jika melewati
perkampungan yang ada di tengah kecamatan kerumutan ini, lebih senang lagi jika
melihat pedagang musiman yang berjejer menjajakan daganganya, dari atas mobil
terlihat ada banyak penganan dan minumanan segar yang identik dengan es.
Menggiurkan memang..!!. Apalagi ditengok saat puasa.
Kecewa kembali datang, ketika telah melewati pedagang dan
kampung yang ada dipinggir jalan itu. Perkebunan kelapa sawit milik perusahaan
adalah giliran berikutnya yang kami lihat disepanjang jalan tanah bercampur
batu. Sebagaian orang menyebut jalan seperti
ini dengan sebutan sirtu. Karena
saat ini musim kemarau debu berhamburan. Ia berterbangan layaknya segerombolan
kupu-kupu yang ada ditengah taman. Tapi jika turun hujan istana debu ini akan
luluh lantak. Air hujan akan mengubah mereka menjadi lumpur licin yang kotor.
Serba salah memang melewati jalan seperti ini. Kemarau
berdebu musim penghujan becek.Entah berapa jam sudah lamanaya, perjalanan ini
kami lalui. Hanya untuk sebuah KKN. Jalan bergelombang yang dipenuhi debu adalah
kawan setia.
******
Buka Puasa Pertama
Tak berapa lama menjelang berbuka puasa, akirnya kami tiba
dijalan Lintas timur. Pemandangan yang kami lihat bertolak belakang dengan apa
yang kami lihat di Kecamatan Kerumutan tadi. Hiruk pikuk kendaraan bermotor,
mobil adalah hiasan yang tak mungkin lekang. Apalagi ini adalah detik-detik
menjelang berbuka puasa. Banyak orang yang turun kejalan, entah itu membeli
bukaan atau hanya sekedar melihat hiporia jalanan menjelang berbuka
puasa.Anak-anak, tua, muda, bahkan
balita juga ikut meramaikan jalan.
Pedagang musiman juga menjamur. Mereka menjajajakan barang
dagangan hampir disepanjang jalan yang kami lalui. Aneka makanan tersaji diatas
gerobak atau meja, yang mereka buat dari kayu. Ada gortengan, es, cendol,
ahh..entah apa lagi aku tak tahu nama makanan itu satu prsatu.
Menggugah selera memang..!!.
Apalagi ini detik-detik menjelang berbuka puasa. Waktu
seolah mati suri, mereka seperti enggan bergerak. Ahh..ini perasaan kusaja
menjelang berbuka puasa. Terasa lama waktu ini.
Bagiku menunggu lima menit menjelaang berbuka itu melelahkan,
jauh lebih menegangkan, dari pada menahan hampir 12 jam lebih yang telah
kulalui tanpa makan dan minum.
Aku tak tahu entah kenapa bisa begitu. Mungkin menjelang
berbuka pasukan setan datang dalam jumlah jauh lebih banyak. Mereka menghampiriku. Ia mencoba menggoda lewat
minuman. Sebab mereka tahu sifatku, mereka tahu keperibadianku. Ia namanya
Setan..!!.
Mereka suka membuntutiku kemana saja. Makanya salah satu
yang tahu sifat dan kpribadianku adalah setan. Mungkin ia jauh lebih tahu dari
teman dekatku atau aku sendiri.
Aku bisa saja tidak makan satu atau dua hari. Aku yakin
tubuh ini akan sanggup. Tapi jika tidak minum, ada yang kurang rasanya dalam
hidup ini. Terutama kopi dan air putih. Sebab saat itu aku adalah penggila
kopi, kopi adalah bagian dari hidupku. Ia temanku dalam kesepian malam, ia juga
sahabat pagiku yang menghangatkan. Kopi juga inspirasi bagiku. Ahh..tapi itu
dulu. Sekarang kami tidak seperti itu lagi. Walau kadang aku selalu merindukan
aroma dan kehangatanmu.
Beberapa menit menjelang berbuka kami berhenti disalah satu
tempat makan yang ada di sana. Aku lupa apa nama tempat makan itu. Tapi itu
bukanlah hal penting. Yang terpenting sore itu aku bisa berbuka.
Setelah masuk aku dan kawan-kawan baruku memesan nasi
lengkap dengan es teh. Setelah itu kami segera mencari bangku kosong yang bisa
diduduki. Kami duduk tidak satu maja. Sebab jumlah kami lumayan ramai. Aku lupa
saat itu aku duduk disebelah siapa dan siapa yang berada didepanku. Aku juga
lupa entah apa lauk yang aku pesan sore itu. Yang jelas jenis lauk yang kami
pessan tidak sama semua.
Tak berapa lama setelah makanan terhidang waktu berbukapun
tiba. Ahh..ini sebuah kebahagian. Sebab sulit untuk menjelaskan bagaimana
rasanya, mendapatkan apa yang diinginkan itu adalah kebahagian. Begitu juga
mendapatkan makanan dalam keadaan perut lapar.
Aku yakin kebahagian ini tak Cuma dirasakan olehku dan
kawan-kawanku. Cacing di dalam perut
kami juga turut bahagia, ia juga ikut berbuka bersama kami.
******
Perjalanan Biasa, Mengesankan
Ba’da maghrib baru saja berlalu. Kegelapan mulai menguasai malam. Saat itu
bintang berserak diangkasa sana. Mungkin mereka ikut mengantarakan perjalanan
kami ke desa Tanjung air hitam.
Kami kembali melanjutkan perjalanan ini. Situasi tentu
berbeda, perut kami tak lagi kosong. Rasa lapar telah hilang seiring dengan
hilangnya cahaya matahari di ufuk senja tadi.
Pegal-pegal masih terasa dibadanku dan beberapa kawanku, itu
terlihat dari tubuh mereka yang sering menggerak-gerakkan badan kekiri-kekanan.
Tadi siang aku berada dimobil pickup, bagian depan bersama
sang supir. Untuk saat ini, aku dan kedua kawanku, Zul dan Rahman. Memilih
untuk berada di bak mobil bersama barang bawaan. Entah itu kuali, kompor,
peralatan masak lainnya dan beberapa sembako. Tujuan kami agar lebih leluasa
bergerak saja. Sekaligus melihat bintang yang bertaburan dilangit pelalawan.
Diatas tumpukan kuali, kompor dan barang bawaan lainnya kami
kami bertengger dibak pickup malam itu. Untung barang-barang bawaan itu telah
dilapisi tarpal berwarna biru. Jadi barang-barang tersebut tak langsung
bersentuhan dengan tubuh kami.
Kepala, kami dongakkan keatas, sementara muka kami menghadap
kebelakang. Sebagian dari kaki kami berada diluar bak pickup.Ia bergerak
leluasa kekiri dan kekanan dan bergantung dibetis kami yang seksi. Saat itu
aku, Rahman dan Zul seperti setengah berbaring.
Mobil pickup yang kami tumpangi bergerak lumayan cepat.
Hembusan angin senja terasa jelas ditubuh ini. Malam itu dunia memang
mengesankan bagiku dan kedua kawanku, sebab kami menikmati malam dari sudut
yang berbeda, ibarat fotografer anggelnya bagus dan unik. Iya bak mobil pickup
itu anggelnya.Malam itu kami menatap langit dengan cara yang berbeda. Aku yakin
tak semua orang pernah merasakan ini.
Debu jalanan yang berterbangan tak lagi kami hiraukan. Sebab
gelap dan debu telah bersekongkol, ia
menyembunyikan debu dibalik dirinya. Kemudian dengan licik debu itu menusuk
mata dan tenggorongan kami. Aah..lumayan. Debu itu terlihat jelas ketika ada
sorotan kendaraan yang lalu lalang saat itu.
Sejenak kemudian mobil yang kami tumpangi berbelok kearah
kanan. Saat ini kami melewati jalan yang berbeda. Hiruk pikuk kendaraan tak
lagi sebising tadi. Tak lagi ada debu sebab jalannya lumayan sunyi.
Kiri kanan jalan itu dihuni oleh pohon karet, kelapa sawit
dan semak belukar lainnya, kiri kanan jalan itu gelap. Sesekali kami menjumpai
rumah warga. Kondisi jalannya lumayan bagus kadang disertai dengan
tikungan-tikungan kecil. Kadang mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Aahh..ini sensasi yang berbeda sekaligus menegangkan dan menakutkan.
Sambil menikmati sajian bintang yang ada dilangit sana, aku,
Rahman dan Zul bercerita banyak malam itu. Tapi tema yang kami angkat lebih
kepada kampung halaman dan sifat kami masing-masing. Ia tujuannya agar saling
mengenal saja.
Malam itu entah berapa perrkampungan yang kami lewati.
Keluar masuk perkampungan dan perkebunan adalah pilihan yang harus dilalui jika
ingin sampai ketempat tujuan.
Ketika melihat ada cahaya pemukiman penduduk dari kejauhanm,
ada secuil kebahagaian terselip dihati ini. Ada secercah harapan. Sebab aku
mengira itu adalah perkampungan yang hendak dituju. Ohh.. ternyata salah. Aku
dan kawanku lainnya tak ada yang tahu dimana kampung itu berada, seperti apa
masyarakat dan budaya dikampung itu. Kecuali si Bowo koordinator desa kami.
Sebab beberapa hari sebelum keberangkatan, Bowo telah melakukan survei terlebih
dahulu.
Tapi malam itu kulihat Bowo tak meyakinkan. Aku takut kami
tersesat. Sebab ia terlihat ragu. Itu terlihat dari sikapnya, beberapa kali ia
berhenti dan turun dari mobil menanyakan
kepada masyarakat yang ada dipinggir jalan.
Semakin lama nenyusuri malam, kelam mulai menghantui.
Bintang diangkasa sana seolah tersenyum pongah melihat kami malam itu.
Cahayanya semakin gemerlap, seratus dua puluh empat ribu bintang diatas sana
menyaksikan perjuangan dan pengorbanan kami malam itu. Saat itu kami tidak
seharusnya bicara masalah sanggup atau tidak. Kami harusnya bicara masalah
perjuangan dan pengorbanan..!!
Jalan yang kami lalui kembali berdebu. Semakin jauh kedalam
kualitasnya semakin jelek. Bergelombang penuh lobang itu sudah pasti. Kcepatan
mobil terpaksa menyesuaikan dengan kondisi jalan yang sedang dilalui.
Kiri-kanan jalan itu kulihat tak lagi ada perkebunan milik
masyarakat, tapi milik perusahaan, aku yakin itu. Walau aku tidak bisa melihat
dengan jelas tumbuhan apa yang ditanam di bumi yang sedang kami tapaki itu,
sebab malam semakin gelap.
******
Welcome to Tanjung air hitam
Di pertigaan jalan itu mobil yang kami tumpangi berhenti. Salah seorang dari kami menanyakan lokasi yang hendak dituju. Bapak yang ditanya mengarahkan kami untuk berbelok kearah kanan.Perjalanan dilanjutkan sesuai dengan arahan yang diberikan oleh bapak tadi. Dalam hati aku berharap semoga orang tadi berkata jujur. Sebab jika ia berbohong akibatnya akan fatal..!!.Bisa saja malam itu kami tidur ditengah hutan, atau hilang untuk selamanya ditelan waktu.
Di pertigaan jalan itu mobil yang kami tumpangi berhenti. Salah seorang dari kami menanyakan lokasi yang hendak dituju. Bapak yang ditanya mengarahkan kami untuk berbelok kearah kanan.Perjalanan dilanjutkan sesuai dengan arahan yang diberikan oleh bapak tadi. Dalam hati aku berharap semoga orang tadi berkata jujur. Sebab jika ia berbohong akibatnya akan fatal..!!.Bisa saja malam itu kami tidur ditengah hutan, atau hilang untuk selamanya ditelan waktu.
Aku yakin dan percaya dibawah langit tuhan tak ada yang tak
mungkin. Hal apapun bisa terjadi. Apa pun itu. Tapi aku selalu yakin, tiap
orang yang pernah kutemui adalah orang hebat, mereka adalah pribadi yang luar
biasa. Sebab aku tak ingin berburuk sangka. Apalagi negatif thingking.
Kondisi jalannya semakin kelam dan menakutkan. Ukuran
jalannya semakin kecil. Dedaun kayu dengan pongah menghalangi kemesraan ku
dengan bintang yang saling bertatapan sejak tadi.
Kadang ku tatap wajah bintang diangkasa sana dengan dalam.
Seolah kulihat yang bergerak itu bintang bukan kami yang berada dimobil. Tapi
ketika kumenatap lebih dalam ia juga ikut berlari mengejar kami.Setiap kali
kutatap bintang hasilnya selalu berubah.
Indah dan menegangkan malam itu. Bagiku itu sangat berkesan.
Bukan karena perjalannya. Tapi karena orang yang ada saat itu. Sebetulnya,
bagiku ini bukanlah perjalan yang istimewa. Bukanlah perjalan yang paling
menakutkan atau membahagiakan.
Perjalan seukuran ini telah sering aku lalui. Tapi tidak
dengan kawan-kawanku. Banyak diantara mereka yang mengaku ini adalah perjalanan
pertama yang menegangkan bagi mereka. Malam itu banyak kawanku yang gusar dan
cemas. Tak tahu entah apa yang mereka takutkan.
Harusnya, aku, Rahman dan Zul yang paling gusar dan takut
malam itu. Sebab jika ada segerombolan
harimau lapar yang menghadang, kami adalah santapan empuk mereka. Sebab
kami berada dibagian luar, sementara kawan-kawan yang lain posisisnya jauh
lebih aman. Sebab mereka berada dalam mobil sebagian lagi menggunakan sepeda
motor.
Tapi aku ingat saat itu. Diantara kedua kawanku aku mungkin
yang paling kurus. Aku paham harimau tak suka tulang. Ia lebih memilih daging
ketimbang tulang. Jadi jika ada harimau yang menghadang malam itu aku bukanlah
pilhan utamanya. Bisa saja Rahman, bisa saja Zul yang menjadi pilihan
utamanaya. Terserah yang mana harimau itu mau.
Aku ingat lagi. Harimau tak pernah bergerombolan. Ia lebih
memilih hidup sendiri maksimal bedua dengan pasangannya. Ahh..posisiku semakin
aman malam itu. Semua pikiran konyol terlintas dibenakku malam itu. Bukan hanya
itu, aku juga telah menyiapkan beberapa strategi jika ia memang betul-betul
menghadang.
Alhamdulillah itu hanya sebuah pikiran konyol yang terlintas
dibenakku ketika melewati jalan itu. Sepanjang perjalan aku, Rahman dan Zul
terus mengobrol. Tujuannya hanya untuk menghilangkan rasa takut aja. Tema yang
kami bahas beragam.
Tapi dijalan itu satu hal yang aku ingat.
Zul dan Rahman berkata setengah berjanji, kata mereka,” aku
tak akan melupakan perjalanan ini,”.
Salah seorang diantara mereka berjanji akan menulis perjalan
yang kata mereka cukup mengesankan ini. Bagiku malam itu bukan perjalannnya
yang mengesankan. Tapi ucapan mereka yang ingin menulis perjalan malam itu, ia
berkesan dibenak ku. Saat itu aku hanya diam saja.
Sebetulnya, aku memang
berencana mau mengabadikan perjalan ini lewat beberapa kata yang cukup
terbatas.
Tapi ucapan kawanku itulah yang menginspirasi aku bangun
bagi ini untuk mengambil laptop. Terimakasih ucapakan kalian malam itu sumber
inspirasi bagiku, walau terkesan sepele.
Entah berapa puluh ribu putaran ban mobil. Akhirnya kami
tiba di desa Tanjung air hitam, sekitar jam sembilan atau jam sepuluh malam,
aku lupa jam berapa tepatnya.
Rumah kepala desa adalah tempat yang kami tuju. Tapi sayang
kepala desanya tak berada dirumah.
Saat turun dari mobil kulihat banyak wajah kawanku yang
murung. Terutama yang cewek. Malam itu mereka seolah menyesal, sebab berada
didesa yang cukup jauh.Mungkin mereka sedih karena jauh dari orang tua atau
dari pacar. Terserah apa alasannya itu buka urusan ku..Memang kondisi desanya
cukup terpencil, tak ada PLN susah nelpon. Mungkin itu salah satu alasan
mereka.
Bahkan kulihat ada yang menangis..(kalau nagk salah ingat).
Tapi aku lupa siapa orangnya. Lagi pula saat itu aku belum mengenal nama mereka
satu persatu, seperti saat ini, aku juga
yakin mereka juga seperti itu. Makanya aku tak ambil pusing, mau menangis, mau
berteriak, atau mau berlari. Itu hak mereka..
Paling. Jika hal itu terjadi akan menjadi tontonan murahan
bagi kawan-kawan yang lain..Tapi syukur tak ada yang berteriak dan berlari...
Tak berapa lama kemudian Pak Kadesnya tiba...
Ia menyambut dengan salam.
Nb: Jika ada waktu luang aku akan lanjutkan cerita ini kawan.
Banyak hal mengesankan dan unik yang kutemui belum kusentuh
dalam tulisan singkat ini..


0 komentar:
Posting Komentar