Minggu, 15 Maret 2015

Penduduk Langit


Saan (Penulis)






“Ini sangat menyedihkan.Kejam. Tak berprikemanusiaan. Saat itu, aku memang tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan menangis. Menggerakkan kelopak mata saja aku tak kuasa. Perbuatan kedua orangtuaku  ini sungguh tak bermoral,” ujar seorang bayi, kepada mahluk bercahaya itu, tapi mataku tak sanggup melihatnya, sebab begitu silau.

Bayi itu tahu ini semua, dari cerita penduduk langit yang mengantarkannya kesurga tuhan.  Kata mereka saat kejadian itu seluruh semesta gempar, penduduk langit dan bumi mengutuk prilaku orang tua sibayi.
Mereka hanya mau nikmatnya saja. Tapi tak berani menanggung resiko. Dampaknya sibayi tidak sempat melihat dunia yang katanya  penuh warna.

“ Biadab kedua orangtuamu.!!,” gerutu penduduk langit yang kudengar. Aku tak tahu entah apa masalah yang dibicarakan mahluk aneh tersebut.


Mungkin ini sudah takdir sibayi yang telah ditulis dilauful mahfuzd. “Aku hanya bisa menerima. Walau dada ini terasa sesak oleh sikapnya yang kasar,” dengan suara lirih, dari kelopak matanya air mata kulihat bercucuran.
.
*****
Indonesia. Dunia menyebutnya indonesia. Tradisi masyarakatnya kental.Banyak hal yang dianggap tabu ditempat ini. Hampir semua segi kehidupan diatur oleh adat istiadat warisan leluhur mereka. Masyakatnya sangat agamis dan berbudaya.
Cerita tentang indonesia ini didapatsibayi dari jabal salah satu leluhur penduduk langit. Menurut jabal tempo dulu tuhan selalu menyanjung negeri yang disebut indonesia itu, dihadapan penduduk langit.


Tuhan selalu menyanjung dan memuji penduduk negri ini jika ada pertemuan penting. Atau ketika ngumpul-ngumpul saat ngopi bersama leluhur penduduk langit.Saat itu seolah indonesia adalah negeri terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.

Tapi itu hanya tempo dulu. Sebelum sibayi dan beberapa kawannya  tinggal disini. Sebagai mahluk tuhan sibayi  juga ikut penasaran..!!. Entah seperti apakah indonesia yang dimaksud leluhur penduduk langit itu.

“Andai aku bisa melihat indonesia walau hanya sesaat. Cerita yang disampaikan lelulur penduduk langit ini akan mudah kupahami,” gumam bayi itu dalam hati.

Tapi apa daya tuhan berkehendak lain. Tuhan menitipkan sibayi dalam rahim orang yang tak paham agama, tak beretika dan tak bermoral.

“Tapi takdir yang kuterima ini sudah kesepakatan si ruh dan tuhan. Ruh yang menanda tangani perjanjian itu diatas matrai enam ribu. Sebab saat itu ruh adalah induk semangku. Dia adalah waliku,” ujar sibayi dengan suara lirih, ucapannya sungguh menyayat hatiku.
Tapi itu hanya masa lalu..

Semenjak sibayi dan beberapa kawannya tinggal disini. Tuhan tak lagi menyanjung indonesia di depan leluhur penduduk langit. Sikapnya berubah drastis tiga ratus enam puluh derajat. Yang terdengar kini tak lagi pujian. Hanya murka dan caci maki. Leluhur langit pun terbawa emosi. Mereka juga ikut mengutuk negri ini.

 Sebab karena simoral, etika dan agama telah mereka usir dari negri ini. Dikalangan penduduk langit simoral, etika dan agama dikenal dengan nama tiga serangkai. Mereka perpanjangan tangan dari tuhan.

Tuhan marah karena tingkah manusia yang pongah. Mereka telah mengusir tiga serangkai dari indonesia. Akibatnya masyarakat yang dulunya agamis dan bermoral. Kini tabiat masyarakatnya bertolak belakang  dan hidup sesuka hati dan tak tahu diri.

Ditahun 2004 silam atas usul penduduk langit, tuhan menegur indonesia dengan cara mencubitnya lembut dan mesra. Tapi penduduk indonesia sungguh tak tahu bahasa isyarat. Itu bukan kali pertama tuhan menegur dengan bahasa isyarat. Teguran beruntun hampir terjadi  diseluruh negri indonesia. Entah itu gempa bumi,  banjir bandang, tanah longsor, gagal panen  bahkan kabut asap.
“Ahh..aku bersyukur  tak jadi lahir di  indonesia yang katanya penuh warna. Sebab ia tak lagi seperti dulu,” ujar bayi itu Pada Jabal.

*****
Beberapa bulan belakangan ini. Penduduk langit kembali gembar. Sebab entah berapa banyak wanita bunting tanpa akad nikah. Mereka tak lebih dari sekelompok binatang yang menjijikan, begitulah pandangan penduduk langit saat itu terhadap indonesia. Indonesia tak lebih seperti kandang  ternak, entah itu kandang sapi, kambing atau sejenis hewan yang tak bermoral lainnya. Aku kaget mendengar hal ini. Apakah penduduk indonesia memang sudah tak beretika dan bermoral.

Tak hanya itu,  semenjak agama diusir dari indonesia. Banyak penipu ulung yang mengatas namakan agama. Kata mereka, agama telah memberikan surat kuasa kepada mereka untuk mengatur indonesia. Makanya tak segan mereka mengatas namakan agama, hanya untuk sebuah kepentingan. Entah itu ekonomi atau politik yang berlabel agama.
Ah..biadab kalian yang membawa embel-embel agama tapi tujuannya untuk kepentingan sekelompok orang. Ternyata pengajian selama ini palsu belaka, kalian hanya mencari masa agar diakui.
Sibayi begitu kecewa dengan penduduk indonesia saat ini. Ia kecewa sebab banyak janin-janin yang tak bisa melihat dunia. Mereka dibunuh  dengan kejam oleh orang tuanya. Ia mengutuk tindakan ini. 


Beberapa kali sibayi melayangkan surat kepada leluhur langit. Isinya Ia ingin leluhur langit ini menyampaikan aspirasinya kepada tuhan. Sibayi ingin  indonesia dihancurkan. Tak lagi dicubit mesra. Ia ingin indonesia dicambuk, diseret bahkan diporak porandakan dari bumi ini.Tapi entah kenapa surat bayi malang  ini selalu ditolak oleh leluhur langit.
Karena bukan siapa-siapa. Sibayi hanya bisa diam dan menerima semua keputusan ini. Ia kecewa dengan leluhur langit, sebab mereka hanya bisa marah dan diam. Tak mengambil tindakan kongkrit. Oo..sibayi paham. Ternyata leluhur langit tak punya kuasa. Mereka hanya menjalankan perintah dari sang tuhan.
“Aku tahu diri. Ibuku saja tega membunuhku,” ujar bayi itu putus asa.
Semenjak itu. Siabayi hanya menyendiri. Berdiam diri bersama janin-janin lainnya. Mereka tak lagi berkeliaran dilangit. Sebab mereka malu, ketika ada yang bertanya, mengenai identitas mereka didunia dulu. Atau ketika ada yang  bertanya kenapa mereka sampai disini.
“Haruskah aku jawab. Aku anak haram. Aku dibunuh orang tuaku,” gumam siabayi didalam hati. Cukup tuhan dan leluhur langit yang tahnu identitas mereka.
Dua tahun berlalu. Jabal kembali menemui si bayi . Ia menyampaikan maksud hatinya. Jabal juga ingin tuhan meluluh lantakkan indonesia. Sebab penduduk indonesia makin tak bermolral. Aborsi dan bunting diluar nikah tak lagi dianggap hal tabu. Indonesia memang jauh berubah semenjak tiga serangkai diusir dari negri ini.

Siang itu juga leluhur langit, sibayi dan beberapa janin lain langsung mengadakan rapat luar biasa. Hasil rapat itu, mereka (janin dan leluhur langit) mengirim surat kepada tuhan. Isinya mereka minta indonesia diluluh lantakkan. Sebab banyak wanita yang bunting diluar nikah. Tingkat aborsi juga semakin tinggi. Atau tuhan mengutus kembali tiga serangkai keindonesia. Agar negri ini kembali indah sperti tempo dulu.

Minggu, 31 Agustus 2014

Ini Ceritaku, Untuk Kkn 2014


 
Penulis
Penulis : Saan
Baca juga: Saanisme.blogspot.com




Ini malam yang berkesan bagiku. Bukan karena bintang yang berserak diangkasa sana. Bukan juga karena perjalanan indah yang bertabur debu menyesakkan hidung.


Tapi karena ucapan kawan ku. Ia ucapakan kawan baru ku. Yang baru kukenal beberapa hari belakanagan ini. Kami diperkenalkan oleh tuhan lewat Kuliah Kerja Nyata. 


Kawan-kawanku menyebutnya KKN.

“Jangan lupakan perjalanan kita ini. Aku akan tulis,” katanya.

“AKU AKAN TULIS,” kata itu yang masih ku ingat. 


Kata itu masih segar dibenakku. Aku takut kata itu lupa. Sebab aku seorang pelupa, aku orang yang mudah melupakan sesuatu. Karena ketakutan itulah aku coba untuk menulis. Biar kita bisa saling mengingatkan kawan..!!. 


Sebab setelah lama kutunggu belum juga kau tulis. Mungkin engkau sibuk atau lupa dengan ucapanmu..


Inilah salah satu alasanku untuk menulis perjalanan kecilku bersama kalian semua. Karena aku yakin waktu akan merampas itu semua dari benak ku. Sebab waktu begitu pongah dan kejam. Ia telah banyak merampas kebahagian orang yang sedang berbahagia.

***

Puasa tentu haus, lapar, capek..!!


 Semua orang pasti tahu akan hal ini. Tapi jauh lebih melelahkan jika melakukan perjalanan dibawah terik matahari. Matahari seolah pongah dan congkak siang itu.Sebab cahayanya telah berhasil mengusir kegelapan dari bumi tuhanku. Begitupun dengan rasa haus dan lapar di tubuhku ini. Ia juga berhasil meluluh lantakkan perut dan kerongkongan ini, hingga tubuh ini dikuasai oleh haus dan lapar. Aku tak bisa berbuat banyak. Hanya minum dan makanlah yang bisa mengobati haus dan lapar ini.


Tapi itu tak mungkin. Tak mungkin..!!. Ini adalah bulan puasa.


 Aku sudah baligh, di agamaku jika sudah baligh tak berpuasa dibulan ramadhan itu berdosa. Aku percaya dengan hal itu sebab keluargaku telah mendoktrin itu sejak aku balita.


Walau bagaimanapun aku harus berpuasa. Aku ingin mati disaat puasa. Tidak.., itu hanya sebuah keinginan, yang kubungkus rapi di alam angan-angan. Sebab dunia begitu indah, aku juga masih muda. Aku masih ingin melihat dunia yang penuh warna.

***


Saat keberangkatan
Hp ku berdering. Ada sebuah panggilan masuk. Ku jawab panggilan itu

“Dimana an..”

“Di PKM,” jawab ku.

“Disini la cepat. Udah banyak yang ngumpul, bentar lagi mau berangkat,”.

Astagfirullah..

Aku lupa. Aku telat bangun. Sebab setelah shalat subuh tadi aku tertidur pulas. Karna tadi malam aku begadang, aku baru tidur setelah ba’da subuh. Begadang adalah bagian dari hidupku. Tak peduli itu bulan puasa atau bulan purnama. Makanya badanku sedikit agak kurus.


Tanpa salam, kumatikan hp itu. Aku berlari, bergegas mencari handuk lalu menuju kamar mandi. Yang ada di pojok bagian kanan tempat tinggalku. Aku mandi terburu-buru.Kata kawanku itu adalah mandi koboi. Sebab yang perlu disentuh air hanya mulut, muka, tangan kaki dan rambut.


Aku segera bergegas mencari pakaian yang layak pakai.Setelah pakaian itu melekat ditubuh ini. Aku segera memanggil Suma (junior organisasiku).


“Sum antarkan abang dekat lapangan bola yang ada di buluh cina,” pinta ku.

“Iya bang... sekarang...,” ujar Suma dengan loghat Khasnya.

“Iya..’’


Singkat cerita..Beberapa menit kemudian aku sampai di tempat yang hendak dituju. Kulihat saat itu hanya ada tiga orang teman KKN ku waktu itu. Zul, Ambo dan Nia.


Jujur aku dongkol saat itu. Sebab aku di bohongi. Untung saat itu aku masih ngantuk, jadi emosiku kalah saing oleh kantuk. Pada hal kalau mereka nelpon dengan jujur aku bisa mandi layaknya manusia normal yang ada dibelahan bumi ini.


Tapi mungkin ini sudah takdir. Sudah lah...!!. Aku tak lagi memikirkan masalah mandi.Sebab kata kawanku, aku tak ada bedanya mandi dengan tak mandi.


Entah berapa jam sudah aku menunggu keberangkatan ini. Sekitar jam sembilan atau jam sepuluh kami bertolak menuju Pelalawan menggunakan dua mobil, sebagian menggunakan sepeda motor. Desa tanjung Air hitam, kecamatan kerumutan adalah lokasi yang hendak dituju. Rencanya dua bulan lamanya aku dan kawan baruku akan tinggal disina.


Bagi ku ini perjalanan biasa. Tak ada yang istimewa. Tapi aku tak tahu dengan kawan baruku. Entah apa yang mereka rasakan. Itu bukan urusanku, aku tak akan memikirkan itu, sebab masih banyak yang harus ku pikirkan. Lagi pula mereka bukan siapa-siapa, hanya teman baru..!!


 Aku juga tak tahu bagaimana sifat mereka, karakter mereka. Apakah mereka pongah, congkak dan sombong, pikiran itu tak ada terlintas dibenakku. Sebagian dari mereka hanya nama yang kutahu, sebagian lagi aku hanya kenal muka. Iya maklum..


****

Singkat cerita, setelah melakukan perjalanan yang melelahkan kami tiba di ibukota kecamatan Kerumutan. Saat itu kira-kira sekitar jam tiga sore. Kami adalah rombongan yang terakhir sampai. Dikecamatan kami berhenti sejenak untuk mendengar ocehan pak camat dan dosen pembimbing. Aku sebut itu ocehan, sebab hanya serimonial belaka. Hanya acara serah terima pada pihak kecamatan. Aku tak bisa menafikkan acara itu, mungkin ada manfaatnya bagi sebagaian orang.


Diruangan itu kami hanya beberapa saat tak lebih dari sepuluh menit, sebab kami telat. Kata Pak camat, tadi malam di kecamtan Kerumutan hujan. Jadi untuk beberapa desa yang berada diujung tidak bisa dilalui oleh mobil atau motor. Desa Tanjung air hitam adalah bagian dari desa yang dimaksud. Solusinya rombongan kami harus keluar dari kecamatan itu, kami harus kembali ke Ukui dan Sorek. Kami harus melewati jalan alternatif. Melewati jalan ini butuh waktu sekitar lima jam lagi untuk sampai kedesa Tanjung air hitam.


Aahh...ini perjalanan yang melelahkan.


Pada hal jika tidak turun hujan tadi malam. Kami hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke desa Tanjung air hitam. Aku yakin saat itu, sebagaian besar teman KKN ku banyak yang kecewa. Mungkin hati mereka mengumpat dan mencaci. Tapi tidak denganku. Aku selalu berpikir dengan “logika terbalik”. Aku menyebut ini berpikir anti-menstrim (diluar kebiasaan). Mungkin sebagian orang diluar sana menyebut “logika terbalik” adalah positif thingking. Aku tak mau menggunakan istilah positif thingkin. Aku ingin membuat kosa kata baru.



Aku hanya kecewa pada pemerintah. Karena aku melihat tak ada keadilan dalam bidang pembangunan. Pembangunan hanya dipusatkan di ibukota Negara, ibukota Provinsi, ibukota Kabupaten, ibukota Kecamatan. Hanya di ibu Kota..!!.


Ahh..pemerintah tak ada bedanya dengan kaum penjajah. Mereka menjajah dengan cara sistematis dan struktural. Negara adalah penjajahan diabad modren” itu yang aku pikirkan saat itu.


Maklum, aku kecewa...!! sebab jarak yang harusnya ditempuh sekitar setengah jam, harus kami lalui sekitar lima jam lagi...!!!



Mana..Mana.. Keadilan..!!. Mana pembangunan yang selama ini kalian agung-agungkan politikus bangsat..!!,’’.


Pada hal dikecamatan kerumutan sana ada banyak perusahaan raksasa yang mengeksploitasi sumber daya alam bumi kerumutan.


Akh..tak ada gunanya aku marah. Aku hanya mahasiswa. Lagi pula aku sedang berpuasa...Itu buka urusanku”.


Perjalanan terus kami lanjutkan. Kami terpaksa memutar arah. Cahaya matahari semakin redup ia mulai bersahabat, sebab ia ingin meninggalkan kesan baik dihari ini pada sang semesta. Rasa cemas juga tak dapat dielakkan. Sebab matahari sudah ada di ufuk senja. Tak lama lagi beduk berbunyi tanda buka puasa.

Hati ini kadang dihinggapi rasa bahagaia, jika melewati perkampungan yang ada di tengah kecamatan kerumutan ini, lebih senang lagi jika melihat pedagang musiman yang berjejer menjajakan daganganya, dari atas mobil terlihat ada banyak penganan dan minumanan segar yang identik dengan es. Menggiurkan memang..!!. Apalagi ditengok saat puasa.


Kecewa kembali datang, ketika telah melewati pedagang dan kampung yang ada dipinggir jalan itu. Perkebunan kelapa sawit milik perusahaan adalah giliran berikutnya yang kami lihat disepanjang jalan tanah bercampur batu. Sebagaian orang menyebut jalan seperti  ini dengan sebutan  sirtu. Karena saat ini musim kemarau debu berhamburan. Ia berterbangan layaknya segerombolan kupu-kupu yang ada ditengah taman. Tapi jika turun hujan istana debu ini akan luluh lantak. Air hujan akan mengubah mereka menjadi lumpur licin yang kotor.


Serba salah memang melewati jalan seperti ini. Kemarau berdebu musim penghujan becek.Entah berapa jam sudah lamanaya, perjalanan ini kami lalui. Hanya untuk sebuah KKN. Jalan bergelombang yang dipenuhi debu adalah kawan setia.

******
Buka Puasa Pertama

Tak berapa lama menjelang berbuka puasa, akirnya kami tiba dijalan Lintas timur. Pemandangan yang kami lihat bertolak belakang dengan apa yang kami lihat di Kecamatan Kerumutan tadi. Hiruk pikuk kendaraan bermotor, mobil adalah hiasan yang tak mungkin lekang. Apalagi ini adalah detik-detik menjelang berbuka puasa. Banyak orang yang turun kejalan, entah itu membeli bukaan atau hanya sekedar melihat hiporia jalanan menjelang berbuka puasa.Anak-anak, tua, muda, bahkan 
 balita juga ikut meramaikan jalan.



Pedagang musiman juga menjamur. Mereka menjajajakan barang dagangan hampir disepanjang jalan yang kami lalui. Aneka makanan tersaji diatas gerobak atau meja, yang mereka buat dari kayu. Ada gortengan, es, cendol, ahh..entah apa lagi aku tak tahu nama makanan itu satu prsatu.

Menggugah selera memang..!!.


Apalagi ini detik-detik menjelang berbuka puasa. Waktu seolah mati suri, mereka seperti enggan bergerak. Ahh..ini perasaan kusaja menjelang berbuka puasa. Terasa lama waktu ini.


Bagiku menunggu lima menit menjelaang berbuka itu melelahkan, jauh lebih menegangkan, dari pada menahan hampir 12 jam lebih yang telah kulalui tanpa makan dan minum.


Aku tak tahu entah kenapa bisa begitu. Mungkin menjelang berbuka pasukan setan datang dalam jumlah jauh lebih banyak. Mereka  menghampiriku. Ia mencoba menggoda lewat minuman. Sebab mereka tahu sifatku, mereka tahu keperibadianku. Ia namanya Setan..!!.


Mereka suka membuntutiku kemana saja. Makanya salah satu yang tahu sifat dan kpribadianku adalah setan. Mungkin ia jauh lebih tahu dari teman dekatku atau aku sendiri.


Aku bisa saja tidak makan satu atau dua hari. Aku yakin tubuh ini akan sanggup. Tapi jika tidak minum, ada yang kurang rasanya dalam hidup ini. Terutama kopi dan air putih. Sebab saat itu aku adalah penggila kopi, kopi adalah bagian dari hidupku. Ia temanku dalam kesepian malam, ia juga sahabat pagiku yang menghangatkan. Kopi juga inspirasi bagiku. Ahh..tapi itu dulu. Sekarang kami tidak seperti itu lagi. Walau kadang aku selalu merindukan aroma dan kehangatanmu.


Beberapa menit menjelang berbuka kami berhenti disalah satu tempat makan yang ada di sana. Aku lupa apa nama tempat makan itu. Tapi itu bukanlah hal penting. Yang terpenting sore itu aku bisa berbuka.


Setelah masuk aku dan kawan-kawan baruku memesan nasi lengkap dengan es teh. Setelah itu kami segera mencari bangku kosong yang bisa diduduki. Kami duduk tidak satu maja. Sebab jumlah kami lumayan ramai. Aku lupa saat itu aku duduk disebelah siapa dan siapa yang berada didepanku. Aku juga lupa entah apa lauk yang aku pesan sore itu. Yang jelas jenis lauk yang kami pessan tidak sama semua.


Tak berapa lama setelah makanan terhidang waktu berbukapun tiba. Ahh..ini sebuah kebahagian. Sebab sulit untuk menjelaskan bagaimana rasanya, mendapatkan apa yang diinginkan itu adalah kebahagian. Begitu juga mendapatkan makanan dalam keadaan perut lapar.


Aku yakin kebahagian ini tak Cuma dirasakan olehku dan kawan-kawanku.  Cacing di dalam perut kami juga turut bahagia, ia juga ikut berbuka bersama kami.
******

Perjalanan Biasa, Mengesankan

 
Ba’da maghrib baru saja berlalu. Kegelapan mulai menguasai malam. Saat itu bintang berserak diangkasa sana. Mungkin mereka ikut mengantarakan perjalanan kami ke desa Tanjung air hitam.
Kami kembali melanjutkan perjalanan ini. Situasi tentu berbeda, perut kami tak lagi kosong. Rasa lapar telah hilang seiring dengan hilangnya cahaya matahari di ufuk senja tadi.


Pegal-pegal masih terasa dibadanku dan beberapa kawanku, itu terlihat dari tubuh mereka yang sering menggerak-gerakkan badan kekiri-kekanan.


Tadi siang aku berada dimobil pickup, bagian depan bersama sang supir. Untuk saat ini, aku dan kedua kawanku, Zul dan Rahman. Memilih untuk berada di bak mobil bersama barang bawaan. Entah itu kuali, kompor, peralatan masak lainnya dan beberapa sembako. Tujuan kami agar lebih leluasa bergerak saja. Sekaligus melihat bintang yang bertaburan dilangit pelalawan.


Diatas tumpukan kuali, kompor dan barang bawaan lainnya kami kami bertengger dibak pickup malam itu. Untung barang-barang bawaan itu telah dilapisi tarpal berwarna biru. Jadi barang-barang tersebut tak langsung bersentuhan dengan tubuh kami.


Kepala, kami dongakkan keatas, sementara muka kami menghadap kebelakang. Sebagian dari kaki kami berada diluar bak pickup.Ia bergerak leluasa kekiri dan kekanan dan bergantung dibetis kami yang seksi. Saat itu aku, Rahman dan Zul seperti setengah berbaring.


Mobil pickup yang kami tumpangi bergerak lumayan cepat. Hembusan angin senja terasa jelas ditubuh ini. Malam itu dunia memang mengesankan bagiku dan kedua kawanku, sebab kami menikmati malam dari sudut yang berbeda, ibarat fotografer anggelnya bagus dan unik. Iya bak mobil pickup itu anggelnya.Malam itu kami menatap langit dengan cara yang berbeda. Aku yakin tak semua orang pernah merasakan ini.


Debu jalanan yang berterbangan tak lagi kami hiraukan. Sebab gelap  dan debu telah bersekongkol, ia menyembunyikan debu dibalik dirinya. Kemudian dengan licik debu itu menusuk mata dan tenggorongan kami. Aah..lumayan. Debu itu terlihat jelas ketika ada sorotan kendaraan yang lalu lalang saat itu.


Sejenak kemudian mobil yang kami tumpangi berbelok kearah kanan. Saat ini kami melewati jalan yang berbeda. Hiruk pikuk kendaraan tak lagi sebising tadi. Tak lagi ada debu sebab jalannya lumayan sunyi.


Kiri kanan jalan itu dihuni oleh pohon karet, kelapa sawit dan semak belukar lainnya, kiri kanan jalan itu gelap. Sesekali kami menjumpai rumah warga. Kondisi jalannya lumayan bagus kadang disertai dengan tikungan-tikungan kecil. Kadang mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Aahh..ini sensasi yang berbeda sekaligus menegangkan dan menakutkan.


Sambil menikmati sajian bintang yang ada dilangit sana, aku, Rahman dan Zul bercerita banyak malam itu. Tapi tema yang kami angkat lebih kepada kampung halaman dan sifat kami masing-masing. Ia tujuannya agar saling mengenal saja.


Malam itu entah berapa perrkampungan yang kami lewati. Keluar masuk perkampungan dan perkebunan adalah pilihan yang harus dilalui jika ingin sampai ketempat tujuan.


Ketika melihat ada cahaya pemukiman penduduk dari kejauhanm, ada secuil kebahagaian terselip dihati ini. Ada secercah harapan. Sebab aku mengira itu adalah perkampungan yang hendak dituju. Ohh.. ternyata salah. Aku dan kawanku lainnya tak ada yang tahu dimana kampung itu berada, seperti apa masyarakat dan budaya dikampung itu. Kecuali si Bowo koordinator desa kami. Sebab beberapa hari sebelum keberangkatan, Bowo telah melakukan survei terlebih dahulu.


Tapi malam itu kulihat Bowo tak meyakinkan. Aku takut kami tersesat. Sebab ia terlihat ragu. Itu terlihat dari sikapnya, beberapa kali ia berhenti dan  turun dari mobil menanyakan kepada masyarakat yang ada dipinggir jalan.


Semakin lama nenyusuri malam, kelam mulai menghantui. Bintang diangkasa sana seolah tersenyum pongah melihat kami malam itu. Cahayanya semakin gemerlap, seratus dua puluh empat ribu bintang diatas sana menyaksikan perjuangan dan pengorbanan kami malam itu. Saat itu kami tidak seharusnya bicara masalah sanggup atau tidak. Kami harusnya bicara masalah perjuangan dan pengorbanan..!!


Jalan yang kami lalui kembali berdebu. Semakin jauh kedalam kualitasnya semakin jelek. Bergelombang penuh lobang itu sudah pasti. Kcepatan mobil terpaksa menyesuaikan dengan kondisi jalan yang sedang dilalui.


Kiri-kanan jalan itu kulihat tak lagi ada perkebunan milik masyarakat, tapi milik perusahaan, aku yakin itu. Walau aku tidak bisa melihat dengan jelas tumbuhan apa yang ditanam di bumi yang sedang kami tapaki itu, sebab malam semakin gelap.
******


Welcome to Tanjung air hitam

Di pertigaan jalan itu mobil yang kami tumpangi berhenti. Salah seorang dari kami menanyakan lokasi yang hendak dituju. Bapak yang ditanya mengarahkan kami untuk berbelok kearah kanan.Perjalanan dilanjutkan sesuai dengan arahan yang diberikan oleh bapak tadi. Dalam hati aku berharap semoga orang tadi berkata jujur. Sebab jika ia berbohong akibatnya akan fatal..!!.Bisa saja malam itu  kami tidur ditengah hutan, atau hilang untuk selamanya ditelan waktu.



Aku yakin dan percaya dibawah langit tuhan tak ada yang tak mungkin. Hal apapun bisa terjadi. Apa pun itu. Tapi aku selalu yakin, tiap orang yang pernah kutemui adalah orang hebat, mereka adalah pribadi yang luar biasa. Sebab aku tak ingin berburuk sangka. Apalagi negatif thingking.


Kondisi jalannya semakin kelam dan menakutkan. Ukuran jalannya semakin kecil. Dedaun kayu dengan pongah menghalangi kemesraan ku dengan bintang yang saling bertatapan sejak tadi.
Kadang ku tatap wajah bintang diangkasa sana dengan dalam. Seolah kulihat yang bergerak itu bintang bukan kami yang berada dimobil. Tapi ketika kumenatap lebih dalam ia juga ikut berlari mengejar kami.Setiap kali kutatap bintang hasilnya selalu berubah.



Indah dan menegangkan malam itu. Bagiku itu sangat berkesan. Bukan karena perjalannya. Tapi karena orang yang ada saat itu. Sebetulnya, bagiku ini bukanlah perjalan yang istimewa. Bukanlah perjalan yang paling menakutkan atau membahagiakan.



Perjalan seukuran ini telah sering aku lalui. Tapi tidak dengan kawan-kawanku. Banyak diantara mereka yang mengaku ini adalah perjalanan pertama yang menegangkan bagi mereka. Malam itu banyak kawanku yang gusar dan cemas. Tak tahu entah apa yang mereka takutkan.


Harusnya, aku, Rahman dan Zul yang paling gusar dan takut malam itu. Sebab jika ada segerombolan  harimau lapar yang menghadang, kami adalah santapan empuk mereka. Sebab kami berada dibagian luar, sementara kawan-kawan yang lain posisisnya jauh lebih aman. Sebab mereka berada dalam mobil sebagian lagi menggunakan sepeda motor.


Tapi aku ingat saat itu. Diantara kedua kawanku aku mungkin yang paling kurus. Aku paham harimau tak suka tulang. Ia lebih memilih daging ketimbang tulang. Jadi jika ada harimau yang menghadang malam itu aku bukanlah pilhan utamanya. Bisa saja Rahman, bisa saja Zul yang menjadi pilihan utamanaya. Terserah yang mana harimau itu mau.


Aku ingat lagi. Harimau tak pernah bergerombolan. Ia lebih memilih hidup sendiri maksimal bedua dengan pasangannya. Ahh..posisiku semakin aman malam itu. Semua pikiran konyol terlintas dibenakku malam itu. Bukan hanya itu, aku juga telah menyiapkan beberapa strategi jika ia memang betul-betul menghadang.


Alhamdulillah itu hanya sebuah pikiran konyol yang terlintas dibenakku ketika melewati jalan itu. Sepanjang perjalan aku, Rahman dan Zul terus mengobrol. Tujuannya hanya untuk menghilangkan rasa takut aja. Tema yang kami bahas beragam.
Tapi dijalan itu satu hal yang aku ingat.


Zul dan Rahman berkata setengah berjanji, kata mereka,” aku tak akan melupakan perjalanan ini,”.
Salah seorang diantara mereka berjanji akan menulis perjalan yang kata mereka cukup mengesankan ini. Bagiku malam itu bukan perjalannnya yang mengesankan. Tapi ucapan mereka yang ingin menulis perjalan malam itu, ia berkesan dibenak ku. Saat itu aku hanya diam saja. 


Sebetulnya, aku memang berencana mau mengabadikan perjalan ini lewat beberapa kata yang cukup terbatas.


Tapi ucapan kawanku itulah yang menginspirasi aku bangun bagi ini untuk mengambil laptop. Terimakasih ucapakan kalian malam itu sumber inspirasi bagiku, walau terkesan sepele.
Entah berapa puluh ribu putaran ban mobil. Akhirnya kami tiba di desa Tanjung air hitam, sekitar jam sembilan atau jam sepuluh malam, aku lupa jam berapa tepatnya. 


Rumah kepala desa adalah tempat yang kami tuju. Tapi sayang kepala desanya tak berada dirumah.
Saat turun dari mobil kulihat banyak wajah kawanku yang murung. Terutama yang cewek. Malam itu mereka seolah menyesal, sebab berada didesa yang cukup jauh.Mungkin mereka sedih karena jauh dari orang tua atau dari pacar. Terserah apa alasannya itu buka urusan ku..Memang kondisi desanya cukup terpencil, tak ada PLN susah nelpon. Mungkin itu salah satu alasan mereka.


Bahkan kulihat ada yang menangis..(kalau nagk salah ingat). Tapi aku lupa siapa orangnya. Lagi pula saat itu aku belum mengenal nama mereka satu persatu, seperti saat ini,  aku juga yakin mereka juga seperti itu. Makanya aku tak ambil pusing, mau menangis, mau berteriak, atau mau berlari. Itu hak mereka..


Paling. Jika hal itu terjadi akan menjadi tontonan murahan bagi kawan-kawan yang lain..Tapi syukur tak ada yang berteriak dan berlari...


Tak berapa lama kemudian Pak Kadesnya tiba...
Ia menyambut dengan salam.

Nb: Jika ada waktu luang aku akan lanjutkan cerita ini kawan.
Banyak hal mengesankan dan unik yang kutemui belum kusentuh dalam tulisan singkat ini..











 


Koin Untuk pernikahanku..



Ditulis Oleh : Saan.

Baca juga : Saanisme.blogspot.com



Ini berawal dari karya William shakespeare. Semua orang pasti tahu apa yang kumaksud.

Ia itu..

kisah cinta Romeo dan juliet. Kisah cinta sepasang kekasih yang sangat melegenda. Bahkan sampai kekampungku yang ada dipelosok negeri ini.


animasi Romeo dan juliet
Aku terinspirasi dari karya William shakespeare, bukan kisah cintanyanya romeo dan juliet yang akan kubahas di tulisan ini.

Tapi yang aku bahasa dalam tulisan ini adalah  ketenarannya. Aku juga ingin kisah cintaku juga melegenda.

Entah itu,seperti Romeo dan juliet atau seperti Khadijah dan Muhamad SAW, atau seperti Fatimah dan Ali. Setidak-tidaknya diketahui oleh anak cucuku. Walau itu hanya berangkat dari sebuah mimpi dan khayalan.



Jadi apa hubungannya antara Koin dan cinta.. Ahh..Rasanya tak ada hubungannya. Tapi bagiku semua itu bisa-bisa saja. Aku yakin dan percaya, tak ada yang tak mungkin dibawah langit tuhan ini, jika kita mau berusaha dan berdoa. Itu adalah perinsip hidupku.


***
Ini berawal dari uang koin yang berserakan di sekre gagasan. Tempat ku bernaung selama ini. Ini adalah rumah keduaku. Ku habiskan waktuku disisni, siang dan malam aku selalu disini. Kecuali jika ada urusan penting atau mau beli makanan baru aku keluar.

Enggan rasanya aku meninggalkan tempat ini. Terlalu indah dan berjasa bagiku. Disinilah tempatku belajar tanpa dipungut biaya. Tulisan ini juga hasil didikan gagasan.

Tapi maaf, tulisanku masih amburadul, jika dibandingkan dengan junior apalagi senior-seniorku. Maklum aku masih anak baru, anak kemaren sore, degil. Ini alasanku tetap cinta kepada gagasan.
Aku teringat dengan pepatah yang cukup jadul. Dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Betul apa yang disampaikan oleh pepatah ini. Kebenarannya sulit untuk dibantahkan.

Suatu sore. Aku melihat beberapa uang koin yang berserakan diruangan redaksi gagasan. Mataku hanya menoleh sebentar saja. Sebab aku tak bernafsu untuk memungut uang itu, karena nilainya tidak terlalu tinggi. Lagi pula itu bukan milikku.

Hari terus terus berlalu, seminggu kedepan sudah menjadi hari ini. Aku masih melihat uang receh itu diantara tumpukkan buku yang disusun tak beraturan, si receh dibiarkan tanpa ada yang peduli. Seolah ia adalah duit yang terlantar. Ia seperti anak tiri yang tak dipedulikan.


Sebagai manusia. Rasa ibaku muncul. Kudekati uang itu. Lalu kutenteng kemana-kamana.


“Ini duit siapa. Dimeja Redaksi??,”.

“Berapa..??,” tanya salah seorang kawan sejawatku.

“Tujuh ratus,” kataku.

“Oo..ambil aja la..kalau mau. Tak ada yang punya tu..,” jawabnya pongah.


Ahh..sombong. Karena itu duit receh kau tak peduli kawan. Engkau diskriminasi dan materialis. 
Andai uang receh ini bisa berbicara, mungkin ia akan curhat kepada ku. Air matanya akan berlinang. 
Membasahi burung garuda yang ada di uang receh itu.

Akibatnya si garuda kebanjiran dan kedinginan, akibat tangisan itu. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Jika itu terjadi akan kupeluk kau erat uang receh, air matamu yang bercucuran akan kuhapus mesra dengan kain lap yang ada disekre ini. Sebab tak ada tisu disini. Kami belum punya uang lebih untuk membelinya.


Mendengar jawaban itu, aku segera mencari botol bekas. Kemudian botol itu kubersihkan dengan air. Setelah dakinya hilang, kukeringkan botol itu. Kemudian kumasukkan sireceh kedalam botol itu. Ia kini menjadi tawananku. Jika tak ada yang menebus ia adalah milikku.


Botol tempat uang receh itu kutarok rapi diruangan redaksi, tempat kami mengetik dan menyelesaikan berita. Sebab ruangan itu higenis tak ada yang boleh masuk kecuali orang gagasan. Aku yakin uang itu tak akan hilang, sebab tak ada tangan-tangan jahil disana.


Beberapa hari kemudian uang itu terus bertambah. Sireceh yang malang itu terus  berkumpul. Aku tak tahu apakah mereka membuat persatuan uang receh didalam botol sana. Itu urusan mereka.
Jika ada waktu luang, uang itu aku keluarkan dari dalam botol. Kemudian ku hitung berulang kali.Hanya sekedar untuk tahu saja apakah tabunganku bertambah atau berkurang.


Iya syukur kalau bertambah banyak. Kalau bertambah sedikit ia tak masalah, itu rezeki mereka. Tapi alahamdulillah dari hari-kehari tak pernah berkurang. 


Suatu ketika diakhir bulan juli 2014 silam. Tabunganku itu terpakai. Sireceh itu kugunakan untuk menyambung hidup. Setelah kuhitung jumlahnya sekitar tiga belas ribu rupiah. Nominal yang cukup menggiurkan, bagi anak kuliahan terutama diujung bulan sperti ini.

Dengan berat hati uang itu kupakai. Sedih rasanya, saat itu kawan..!!. Aku sangat sedih..
Aku sedih bukan karena membuka tabungan itu, tapi karena duit sudah tidak ada.


****

Waktu terus berlalu. Kebiasaanku mengumpulkan uang receh terus berlanjut. Aku mengumpulkannya dengan cara yang unik. Uang-uang receh itu kadang kumasukkan didalam botol bekas minyak rambut. Tujuannya biar terlihat menarik.



Kali ini aku memang sungguh-sungguh ingin mengumpulkan uang receh. Seperti hari-hari sebelumnya. Hampir tiap sore aku menyetorkan uang receh. Sudah dipastiakn juga jumlah uangnya akan ikut bertambah.


Hari-hariku terus kulalui dengan berbagai rutinitas. Entah itu kuliah, olahraga, begadang, atau menulis. Tapi tak jarang juga kuisi dengan bermain batu domino dengan rekan sejawat. Ia sekaligus silaturrahmi dan minum kopi gratis.


Tepat pada pagi minggu dibulan yang sama, selesai shalat subuh aku duduk menikmati udara pagi. Segelas kopi panas lengkap dngan sebuah novel turut menemaniku pagi itu.


Udara pagi memang segar. Makanya sebisa mungkin aku usahakan bangun pagi, kadang hanya sekedar untuk melihat matahari pagi. Bagiku pagi adalah menenangkan, ia juga menghangatkan, ia selalu menyuguhkanku dengan secangkir inspirasi tiada henti.


Itulah arti sebuah pagi bagi diriku...makanya hampir tiap malam aku selalu merindukannya.
Oh ya.. Pagi itu aku baca sebuah novel X. Dalam novel itu ada sebuah  kutipan yang berkesan dihatiku “ aku ingin cinta kita seperti Romeo dan julia”. Aku heran kenapa kisah cinta romeo dan julia sering disebut orang. Kisah cinta mereka melegenda  hingga kepenjuru dunia.


Sejenak aku membisu dipagi itu. Aku iri dengan kisah cinta mereka. Aku iri karena ketenarannya saja. Tapi aku paham itu hanya sebuah cerita.

Aku yakin. Aku tak ada bedanya dengan tokoh sejarah yang pernah mengukir sejarah dimasa lalu. Mereka juga punya pikiran, hati dan nafsu. Sama seperti aku. Bahkan mereka pernah dianggap gila pada zamannya, tapi ini tidak boleh berlaku pada diriku.. Aku juga iri dengan mereka. Aku iri dengan ketenaran mereka. Aku iri dengan karya mereka yang bisa mengubah dunia.


Aku tahu. Aku adalah manusia. Aku adalah pelaku sejarah saat ini. Mungkin jika aku sungguh-sungguh, aku bisa menyaingi  tokoh filosofi dunia sekelas thales, aristoteles dan tokoh filosofi lainnya. Aku percaya tak ada yang tak mungkin.
*****

Ahh...

Itu terlalu berlebihan. Aku bukan seorang ilmuan apalagi fiilsuf. Aku hanya ingin kisah cintaku 
terkenal seperti Romeo dan julia. Apa yang bisa kuperbuat. Bahkan sampai saat ini tak ada satupun cewek yang mau padaku.


Aku ingat kawan..!!


Aku punya uang receh. Itu salah satu aset berharga yang pernah kumiliki. Tapi apa hubungannya dengan cinta. Apakah aku akan pacari uang itu, biar terkenal seluruh dunia. Itu mustahil. Aku masih normal..!!.

Aku berpikir sejenak.

“ Uang receh-cinta, Uang receh-cinta, Uang receh-cinta,” tak ada hubungannya, tak ada kolerasinya.
Oo..aku lupa.


Saat ini aku tak sendiri, ada kopi, ada pagi. Mereka berdua tertawa melihatku yang bingung saat itu.
Aku menceritakan pergelokan yang ada di jiwaku, kepada kedua sahabatku itu.


Dengan enteng mereka bertanya kepadaku, “yakin engkau punya duit receh..?,’’.


“Yakinn!!,” jawabku.


“Mulai pagi ini, kau terus menabung tanpa henti. Yang perlu kau tabung hanya uang receh saja. Sebab itu yang kau miliki. Itu pula yang kau sanggup,”

Aku hanya mangut-mangut saja..mendengar penjelasan dari sahabatku itu.


“Jadi hubungannya uang receh dengan cinta apa..?,” tanyaku penasaran.


“Nanti..ketika kau akan menikah. Jadikan sebagian uang receh itu sebagai biaya nikahmu. Sebagiannya lagi jadikan sebagai maharnya,” ujar mereka.


“ Ahh..bencanda kau pagi dan kopi,” ujarku protes.

“Pakai duit banyak aja tak ada cewek yang mau. Apalagi pakai si receh,” jawabku sebal.

“Kau kan ingin kisah cintamu terkenal. Itulah yang bisa membuat kisah cintamu terkenal. Karena aku yakin semua wanita yang kau temui akan menolak..!!,” jelas kopi dengan logis.

“Kau kan Cuma ingin terkenal. Tidak ingin berhasil..” tambah pagi.
Aku hanya mengangguk diam dan membisu.
 ****

Bersambung...




 Cerita hanya ini Fiktif belaka...

Test Footer 1

POLITIK RIAU “HARI INI”