Senin, 10 Maret 2014

Dosen "cungkring" multi talent


By on 22.35



Bekerja sebagai Cleaning Service (CS) tidak membuat Raeda Tami gengsi melanjutkan kuliah. Raeda panggilan akrab pria bertubuh cungkring ini, hampir setengah tahun ia geluti profesi sebagai CS disalah satu rumah sakit ternama di Kota Pekanbaru.


            Malam sekitar pukul 18.30 WIB. Ba’da Maghrib hingga jam sepuluh malam Raeda mengajar ngaji. Ia tak segan-segan datang kerumah muridnya untuk mengajar ngaji

Ditengah sibuk aktifitas  kuliah dan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di Pesantren Darel Hikmah. Ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setiap waktu kosong, sering ia manfaatkan untuk menambah penghasilannya. 
            Setelah mengajar mengaji Raeda siap-siap berangkat kerja. Seragam lengkap dibalut jaket kulit terpasang rapi dibadan, motor Satria FU keluaran Suzuki motor selalu menemani dalam perjalanan menuju tempat kerja yang berjarak sekitar 8 km dari kos tempat berdomisili.
            Dengan penghasilan 1,2 juta rupiah tidak menjadi alasan untuk Raeda menempuh jarak yang lumayan jauh dari kediaman. “Demi melanjutkan pendidikan, harus seperti ini,” ungkap raeda saat memulai cerita.
            Awalnya Raeda tak ada niat untuk melanjutkan pendidikan di Pereguruan Tinggi. Tahun 2007 silam ia meninggalkan kampung halaman Kobo Berapak Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Tujuan awal Kota bertuah Pekanbaru untuk mencari pekerjaan, namun ketika sampai di Pekanbaru, Raeda  mencari tempat menjahit.
            Raeda sengaja memilih tempat jahit, karena menjahit satu-satunya skill yang dimiliki. Setelah bekerja selama setahun Reda betemu kawan sekolah waktu di Madrasah Aliyah (MA). Mereka sering bertemu dan mengobrol ,dan bercerita banyak hal. 
            Tepat pada tahun 2008 silam mereka memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi Negri adalah target utama Reda dan kawannya. Karena biaya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri sedikit lebih murah dibandingkan Perguruan Tinggi Swasta. 
            Awalnya Raeda mendaftar melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), karena dia  tamatan Madrasah Aliyah (MA)  tahun 2003, berarti dia telah menamatkan MA selama  lima tahun. 
            Namun, ketika mengisi formulir pendaftaran. Di kolom tahun berapa tamat SMA/ sederajat. Di formulir tersebut tidak ada tertulis tahun 2003. ”Yang tertulis tamatan tahun 2008-2005/2006,” Kenang Reda.
 Secara adsminisrtasi ia gagal. Namun Reda tidak  putus asa, meskipun saat itu formulir tersebut sudah dia beli.
            Raeda akhirnya memutuskan untuk membeli formulir jalur mandiri. Karena berlatar belakang dari MA dia pun memilih jurusan yang berkaitan dengan agama. Jurusan Bahasa Arab, Pendidkan Agama Islam, dan Tafsir hadis  merupakan pilihan Raeda saat itu. Setelah pengumuman hasi seleksi keluar. Raeda akhirnya di terima di Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Arab.
Ia kuliah dengan biaya sendiri mulai dari beli formulir pendaftaran hingga wisuda. Raeda juga mengakui selama kuliah dia memang tak terlalu fokus kuliah saja. Karena harus memikirkan kebutuhan hidup dan uang SPP-nya.
            Selama kuliah banyak profesi yang pernah di lakukan Raeda. Mulai dari Gharim, Guru ngaji, bahkan CS di Eka Hospital . Ketika berprofesi sebagai CS Raeda mengambil jam kerja malam. Mulai dari jam 10 malam hingga pagi harinya. ‘’  Sebelum berangkat kerja menjadi CS aku terlebih dahulu mengajar ngaji,” ujar Reda.
            Selama kuliah ada hal yang masih diingat oleh Raeda. Dia sering telat membayar SPP, akibatnya sering mendapat denda dari pihak universitas. Pernah waktu mau membayar uang SPP semester 3, Raeda sempat meminta pinjaman kepada kawan-kawannya. “Waktu mau bayar SPP semester 3, aku sempat meminjam duit kepada kawan. Mereka meminjamkan seratus ribu rupiah perorang,” ujar Raeda.
            Meskipun memiliki aktifitas yang cukup padat dan menguras tenaga. Namun secara  akademis Indeks Perestasi (IP) tak pernah kurang dari 3. “Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) terakhir 3,43 ,” ujar Reda. Selain itu, ia juga aktif di organisasi Internal kampus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Bahkan dia juga pernah berada di posisi penting di organisais tersebut.
            Terbiasa hidup mandiri, akhirnya membuat Raeda banyak talenta mulai dari Menjahit, Service Kumputer, hingga menginstal Laptop. Tepat pada tahun 2012 Reda akhirnya menyelesaikan studi Strata Satu (S1). Profesi ini tetap Reda lakukan hingga sekarang meskipun saat ini dia sudah menjadi dosen.
            Raeda mengabdi sebagai dosen kontrak. Setelah selesai mengajar ia kembali berprofesi sebagi penjahit, servis komputer dan layout buku, jika ada orderan. Tapi anehnya, semua keahlian yang didapat dia pelajari secara otodidak. Servis laptop misalnya ia pelajari dengan kawannya secara langsung. “Aku tak pernah ikut kursus, biasanya belajar secara otodidak,” ujarnya.
Rini sapaan akrab istri Raeda mengatakan bahwa Raeda memang sosok yang pekerja keras. “ Bang Reda pekerja keras,’ujarnya. Tapi ada satu yang unik darinya, ia tak pernah marah,” ujar Rini.
            Diakhir wawancaranya Raeda berpesan, “Bagi kawan-kawan yang sudah sarjana, lanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi kawan-kawan yang sudah bekerja, jangan pernah berpikir untuk jadi karyawan,” ujar Reda. (Saan)

About Syed Faizan Ali

Faizan is a 17 year old young guy who is blessed with the art of Blogging,He love to Blog day in and day out,He is a Website Designer and a Certified Graphics Designer.

0 komentar:

Posting Komentar

Test Footer 1

POLITIK RIAU “HARI INI”