Bekerja sebagai Cleaning Service (CS) tidak membuat
Raeda Tami gengsi melanjutkan kuliah. Raeda panggilan akrab pria bertubuh
cungkring ini, hampir setengah tahun ia geluti profesi sebagai CS disalah satu
rumah sakit ternama di Kota Pekanbaru.
Malam sekitar pukul 18.30 WIB. Ba’da
Maghrib hingga jam sepuluh malam Raeda mengajar ngaji. Ia tak segan-segan datang kerumah muridnya untuk mengajar ngaji.
Ditengah sibuk aktifitas kuliah dan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
di Pesantren Darel Hikmah. Ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Setiap waktu kosong, sering ia manfaatkan untuk menambah penghasilannya.
Setelah mengajar mengaji Raeda siap-siap
berangkat kerja. Seragam lengkap dibalut jaket kulit terpasang rapi dibadan,
motor Satria FU keluaran Suzuki motor selalu menemani dalam perjalanan menuju
tempat kerja yang berjarak sekitar 8 km dari kos tempat berdomisili.
Dengan penghasilan 1,2 juta rupiah
tidak menjadi alasan untuk Raeda menempuh jarak yang lumayan jauh dari
kediaman. “Demi melanjutkan pendidikan, harus seperti ini,” ungkap raeda saat
memulai cerita.
Awalnya Raeda tak ada niat untuk
melanjutkan pendidikan di Pereguruan Tinggi. Tahun 2007 silam ia meninggalkan
kampung halaman Kobo Berapak Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi
Sumatra Barat. Tujuan awal Kota bertuah Pekanbaru untuk mencari pekerjaan,
namun ketika sampai di Pekanbaru, Raeda mencari
tempat menjahit.
Raeda sengaja memilih tempat jahit,
karena menjahit satu-satunya skill
yang dimiliki. Setelah bekerja selama setahun Reda betemu kawan sekolah waktu
di Madrasah Aliyah (MA). Mereka sering bertemu dan mengobrol ,dan bercerita
banyak hal.
Tepat pada tahun 2008 silam mereka
memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi
Negri adalah target utama Reda dan kawannya. Karena biaya kuliah di Perguruan Tinggi
Negeri sedikit lebih murah dibandingkan Perguruan Tinggi Swasta.
Awalnya Raeda mendaftar melalui
jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), karena dia tamatan Madrasah Aliyah (MA) tahun 2003, berarti dia telah menamatkan MA
selama lima tahun.
Namun, ketika mengisi formulir
pendaftaran. Di kolom tahun berapa tamat SMA/ sederajat. Di formulir tersebut
tidak ada tertulis tahun 2003. ”Yang tertulis tamatan tahun 2008-2005/2006,”
Kenang Reda.
Secara adsminisrtasi ia gagal. Namun Reda tidak putus asa, meskipun saat itu formulir
tersebut sudah dia beli.
Raeda akhirnya memutuskan untuk membeli
formulir jalur mandiri. Karena berlatar belakang dari MA dia pun memilih
jurusan yang berkaitan dengan agama. Jurusan Bahasa Arab, Pendidkan Agama
Islam, dan Tafsir hadis merupakan
pilihan Raeda saat itu. Setelah pengumuman hasi seleksi keluar. Raeda akhirnya
di terima di Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Arab.
Ia
kuliah dengan biaya sendiri mulai dari beli formulir pendaftaran hingga wisuda.
Raeda juga mengakui selama kuliah dia memang tak terlalu fokus kuliah saja.
Karena harus memikirkan kebutuhan hidup dan uang SPP-nya.
Selama kuliah banyak profesi yang
pernah di lakukan Raeda. Mulai dari Gharim, Guru ngaji, bahkan CS di Eka
Hospital . Ketika berprofesi sebagai CS Raeda mengambil jam kerja malam. Mulai
dari jam 10 malam hingga pagi harinya. ‘’
Sebelum berangkat kerja menjadi CS aku terlebih dahulu mengajar ngaji,”
ujar Reda.
Selama kuliah ada hal yang masih
diingat oleh Raeda. Dia sering telat membayar SPP, akibatnya sering mendapat
denda dari pihak universitas. Pernah waktu mau membayar uang SPP semester 3, Raeda
sempat meminta pinjaman kepada kawan-kawannya. “Waktu mau bayar SPP semester 3,
aku sempat meminjam duit kepada kawan. Mereka meminjamkan seratus ribu rupiah
perorang,” ujar Raeda.
Meskipun memiliki aktifitas yang
cukup padat dan menguras tenaga. Namun secara
akademis Indeks Perestasi (IP) tak pernah kurang dari 3. “Indeks
Prestasi Kumulatif (IPK) terakhir 3,43 ,” ujar Reda. Selain itu, ia juga aktif
di organisasi Internal kampus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Bahkan dia juga
pernah berada di posisi penting di organisais tersebut.
Terbiasa hidup mandiri, akhirnya
membuat Raeda banyak talenta mulai dari Menjahit, Service Kumputer, hingga menginstal Laptop. Tepat pada tahun 2012
Reda akhirnya menyelesaikan studi Strata Satu (S1). Profesi ini tetap Reda
lakukan hingga sekarang meskipun saat ini dia sudah menjadi dosen.
Raeda mengabdi sebagai dosen
kontrak. Setelah selesai mengajar ia kembali berprofesi sebagi penjahit, servis
komputer dan layout buku, jika ada
orderan. Tapi anehnya, semua keahlian yang didapat dia pelajari secara otodidak.
Servis laptop misalnya ia pelajari dengan kawannya secara langsung. “Aku tak
pernah ikut kursus, biasanya belajar secara otodidak,” ujarnya.
Rini
sapaan akrab istri Raeda mengatakan bahwa Raeda memang sosok yang pekerja
keras. “ Bang Reda pekerja keras,’ujarnya. Tapi ada satu yang unik darinya, ia tak
pernah marah,” ujar Rini.
Diakhir wawancaranya Raeda berpesan,
“Bagi kawan-kawan yang sudah sarjana, lanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi. Bagi kawan-kawan yang sudah bekerja, jangan pernah berpikir untuk
jadi karyawan,” ujar Reda. (Saan)
0 komentar:
Posting Komentar