Hari masih gelap, saat itu jalan Raya masih sunyi
dari hiruk pikuk kendaraan bermotor. Biasanya, sebentar lagi
akan dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Entah itu, orang
yang mau pergi kekantor untuk bekerja atau ibu ibu yang mau kepasar hanya untuk sekedar belanja kebutuhan keluarga mereka.
Sesekali, biasanya ada kendaraan bermotor
yang dikendarai oleh masyarakat ia temui. Tapi biasanya yang sering
ditemui hanya pedagang yang mau kepasar, atau pemilik rumah makan
yang ingin berbelanja rempah rempah dan kebutuhan lain yang
diperlukan.Hal ini sudah menjadi kebiasaan yang wajib dilakukan oleh
pasangan suami istri setengah baya ini.
...
Diatas meja yang berukuran tak lebih dari satu kali satu meter, terdapat tumpukan media cetak yang ada di
Riau. Ada Tribun, Riau pos, Koran Riau yang ditumpuk secara teratur.
Diantara tumpukan media cetak tersebut tumpukan tribun terlihat lebih
tebal dibandingkan tumpukan media cetak lainnya. Meja tersebut disampul
dengan sepanduk bekas berwarna putih , agar terlihat lebih rapi.
Disekeliling meja ada kursi yang dibuat dari kayu seadanya. Kursi kursi
itu sengaja dibuat dalam bentuk yang sederhana.
Disebelah
tumpukkan koran ada kalkulator berwarna hitam yang bermerek kanachi dan
kaleng bekas biskuit yang sudah mulai pudar warna nya. Kaleng ini
digunakan sebagai tempat menaruh Uang receh agar tak berserak. Kaleng
tersebut tertutup renggang diatasnyas ada pena berwarna hitam lengkap
dengan secarik kertas putih yang bertuliskan angka, sebagai kode tertentu. Dari samping jika di perhatikan dengan seksama maka kelihatan uang uang receh tersebut.
Disebelah
meja itu terdapat tempat tambal ban yang hanya disekat oleh dua buah
tiang . Tiang tiang terseburt terbuat dari kayu bulat dibagaian bawah
kedua tiang ada sekitar dua atau tiga papan sebagai pembatas tempat itu.
Meskipun
panas matahari pagi itu cukup terik, namun panasnya tidak menyentuh
pasangan suami istri setengah baya ini pada saat mereka duduk di tempat
itu. Lapaknya hanya beratap beberapa keping seng yang sudah kelihatan
bolong dimakan usia. Sedangkan atap bagian depannya di tambah sepanduk
bekas berwarna putih.
Ocu ajo dan mar itulah nama panggilan untuk pasangan
suami istri, setengah baya tersebut. Namun ketika ditanya nama
lengkapnya dia tidak mau menyebutkan nama sebenarnya. “Panggil aja itu,
biasanya orang disini memanggil seperti itu, “ kata Ocu ajo.
Pasangan
suami istri setengah baya ini, tipe orang yang suka hidup
berpindah-pindah. Delapan tahun yang silam, Ocu ajo panggilan akrab
lelaki berkulit gelap ini. Pernah menetap beberapa tahun di ibu kota
provinsi Sumatra Utara yakni kota Medan. Disana untuk memenuhi kebutuhan
keluarga Ocu ajo berprofesi sebagai pedagang kaki lima yang membuka
lapak di pinggir jalan dikota tersebut. Entah apa sebabnya Ocu ajo
memutuskan untuk mengadu nasib di kota bertuah Pekanbaru.
“Yang
jelas hidup saya tak ada perubahan. Kondisi ekonomi keluaraga kami tak
ada kemajuan,” ujar Ocu ajo. Ia pun tak tahu entah apa yang salah dari
dirinya. Tapi yang jelas dia telah berusaha untuk mengubah kondisi
keluarga nya.
Tepat pada tahun 2005 silam, Ocu ajo memutuskan untuk pindah ke provinsi Riau. Sebelum nya, Ocu
ajo memang sudah sering bertandang ke Riau. Bahkan hampir tiap bulan.
Jadi sedikit banyaknya Ocu ajo sudah memahami dan bisa membaca peluang
kerja yang ada di provinsi Riau kususnya wilayah pekanbaru.
Di
kabupaten kampar salah satu kabupaten yang ada di provinsin Riau. Di
daerah tersebut Ocu ajo masih memiliki sanak saudara. Dan disanalah dia
di lahirkan, hingga saat ini meskuipun telah tinggal dipekanbaru hampir
tiap bulannya dia mengunjnungi keuarga dan sanak family yang ada di
sana. Namun, saat masih kecil orangtuanya pindah ke Sumatra Barat.
Setelah dewasa orang tuanya pun pindah ke Sumatra Utara hingga bertahan
sampai tahun 2005 silam.
Dari
segi pendidikan pasangan suami istri ini hanya tamatan Sekolah Dasar
(SD). Mereka memang tak pernah memilih dan membedakan pekerjaan apa pun.
Ukurannya hanya satu yang penting halal dan tak mengganggu ketenangan
orang lain. “ Pekerjaan itu yang penting halal. Jangan sampai pekerjaan
kita mengganggu orang lain,” ujar Ocu ajo.
Memiliki
pekerjaan sebagai agen koran memang bukan pekerjaan ringan setiap hari
dia harus bekerja dari jam 5 pagi hingga jam 3 atau jam 4 sore. Sebagai
agen koran dia memiliki cara pemasaran yang berbeda dengan agen koran
lain. Setiap pagi sebelum shalat subuh dia sudah nongkrong dengan
setumpuk korannya, di tempat yang telah ia sediakan. Tempatnya dilihat
secara sepintas seperti lapak, yang di gunakan oleh pedagang kaki lima.
Disanalah biasanya Ocu ajo dan istrinya menunggu loper koran yang ingin
menjajakan koran pagi itu. Dia tak membebankan kepada loper koran untuk
habis sekian sekian. “ kami memang tak pernah menargetkan loper koran
untu habis dalam jumlah tertentu. “Mereka kami gaji tergantung dari berapa jumlah koran yang habis terjual,” ujar Ocu ajo.
Tiap
tiap koran mempunyai harga jual yang berbeda dan untung yang berbeda
bagi Ocu ajo dan loper koran lainnya, yang mengambil koran
kepadanya.Tribun misalnya jika terjual satu eksampler, loper akan
mendapatkan sekitar 800 rupiah. Menurut ajo, penghasilan loper koran
yang bekerja dengan dia
bervariasi. Tergantung kepiawaian dan kelihaian penjual. Ada loper yang
mempunyai penghasilan 30.000 perhari, ada yang 20.000 perhari, bahkan
ada yang 15.000 perhari.
Loper
koran yang mengampil koran pada Ocu ajo pun bermacam-macam latar
belakang . Tapi kebanyakan yang mengambil koran ditempat Ocu ajo adalah
remaja yang putus sekolah, rata rata mereka datang dari luar daerah.
Menurut Ocu ajo tak ada kriteria kusus jika ingin menjadi loper koran, atau ingin bekerja
dengan dia yang penting harus siap mental. Menurut cerita Ocu ajo,
beberapa bulan silam dia pernah di datangi oleh dua orang gadis yang
berstatus mahasiswa. Kedatangan kedua gadis tersebut, tak lain tujuannya
hanya ingin mencari kerja kepada Ocu ajo. Setelah diterima menjadi
loper koran, esok harinya kedua gadis yang yang masih kuliah disalah
satu perguruan tinggi di kota pekanbaru tersebut mulai bekerja. Seperti
loper koran lainnya. Tepat jam enam pagi, dia sudah datang untuk mengambil sejumlah koran lokal yang ada di lapak Ocu ajo.
Pagi
itu, hari pertama bagi kedua gadis tersebut berprofesi sebagai loper
koran. Entah itu keberuntungan atau tidak. Meskipun baru pertama
menjalani profesi sebagai loper koran, kedua gadis tersebut mendapatkan penghasilan sekitar 20.000, dia bekerja hanya setengah hari kira kira sampai jam 12 siang. Karena
menurut pengakuan kedua gadis tersebut pada siang harinya dia harus
masuk kuliah sampai sore hari. Sebagai loper koran berpenghasilan 20.000
rupiah dalam waktu setengah hari sudah terbilang besar.
Esok
harinya, seperti hari sebelumnya dia juga datang tepat waktu. Namun
untuk hari ini ia bekerja hanya sampai jam 9 pagi. Karena pada siang
nanti dia ada jam kuliah. “ Pak nanti kami jualan koran hanya sampai jam
9. Jam 10 ada kuliah” ujar Ocu ajo, mencoba meniru perkataan kedua gadis
tersebut. Hari kedua ini, mereka hanya mendapatkan penghasilan kurang
dari 10.000 perorang. Mungkin di sebabkan karena hari masih pagi, jadi
korannya belum banyak laku.
Namun
hari berikutnya kedua gadis tersebut tak lagi datang kelapak Ocu ajo
untuk menjemput koran tersebut. Kejadian ini bukan hanya kali pertama. “
Aku paham, mungkin gajinya tak terlalu berarti bagi sebagian orang.
Mungkin mereka juga ada yang tak kuat, karena gaji rendah atau tak kuat
mental. Ha ha... ‘’ ujar Ocu ajo sambil becanda. Kejadian serupa seperti ini sering dialami Ocu ajo sebagai agen koran.
****
Dibawah
sinar matahari pagi itu, pria berkulit gelap ini bnercerita panjang
lebar tentang kehidupannya sebagai agen koran. Dengan berpenampilan
sederhana menggunakan celana tiga perempat. Ocu
ajo duduk di lapaknya yang terletak di tepi jalan HR soebrantas. Sambil
bercerita pria setengah baya ini melepaskan kedua sandal jepit dari
kakinya, lalu ia mengangkat kaki nya sebelah kanan diatas kursi, disebelah pantatanya. Layaknya orang duduk di warung kopi.
Sambil
meneguk kopi, ia pun mulai bercerita. Menurut bapak satu anak ini
bekerja sebagai agen koran memang sedikit lebih santai dari bekerja
sebagai kuli bangunan yang bekerja di bawah terik sinar
matahari. Lagi pula, jika di bandingkan dengan resiko, menjadi agen
koranpun tak terlalu beresiko. “ Kami hanya modal kepercayaan aja.
Peluang untuk rugi itu sedikit. Karena ada sebagaian, bila koran yang
diambil tak laku bisa di kembalikan. Setiap harinya Ocu ajo mengambil
koran sekitar seribu eksampler. Rata-rata hampir tiap hari koran yang di
bawa habis terjual oleh loper sekitar jam 3 atau jam 4 sore.
Tak
berapa lama kemudian, ada seorang ibu setengah baya membawakan lontong
lengkap dengan gorengan dan segelas teh panas. Ternyata, ibu tersebut
penjual lontong langganan Ocu ajo dan istrinya. Mereka telah memesan
lontong tersebut beberapa saat yang lalu. Pembicaraan kami sempat
terhenti sejenak. Karena Ocu ajo mengobrol sebentar dengan penjual
lontong tersebut.
Seperti
biasanya, Ocu ajo jika belum sarapan pagi dari rumah, ia sering makan
lontong. Maklum, dia jarang sarapan di pagi hari. Karena harus berangkat
sekitar jam 5 pagi, supaya koran-koran tersebut dapat diambil lebih
cepat oleh loper yang telah berlangganan pada Ocu ajo. Lagi pula menurut
Ocu ajo dia sering tidak sarapan pagi.”Kalau sekitar jam 5 itu, selera
makan belum ada. Kan belum lapar” kata Ocu ajo.
Kami
kembali melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda. Sebelum
melanjutjkan perbincangan ia pun menawarkan untuk makan. Lontong
tersebut ia tarok diatas meja sederhana yang ada di depannya. Jadi, meja
yang tadi berisi koran dan beberapa peralatan lain yang digunakan oleh
Ocu ajo untuk berjualan, sekarang sudah bertambah muatannya dengan
sepiring lontong lengkap dengan segelas teh panas.
Berprofesi
sebagai agen koran menurut Ocu ajo lumayan menguntungkan dan banyak
manfaatnya. Yang pasti, mekipun dia bukan seorang pejabat atau PNS. Ocu
ajo tetap membaca koran, jadi ia tak pernah ketinggalan informasi.
Sebagai agen koran, meskipun tamatan sekolah dasar. Wawasan Ocu ajo
cukup luas untuk ukuran masyarakat awam. Hal ini terlihat dari bahasa
atau istilah yang di gunakannya.Tak jarang Ocu ajo ketika berkomunikasi
melontarkan istilah-istilah ilmiah.
Ini
di sebabkan karena tiap hari Ocu ajo membaca berbagai media cetak lokal
yang ada di Riau. Bukan hanya itu manfaat yang didapat sebagai agen
koran, Sebagai agen koran sedikit banyaknya ia turut meringankan beban
negara. Karena ada sekitar belasan loper koran yang bekerja dibawah
naungan Ocu ajo.
Sesekali,
sambil bebicara mengenai profesi yang di gelutinya. Ia mencoba
menikmati lontong yang ada di atas meja sederhana itu. Sambil mengunyah
lontong tersebutr. Tangan kanannya mencoba meraih teh hangat yanga ada
di sebelah kanan sikunya. Ocu ajo segera meneguk teh hangat itu. Hingga
terdengar bunyi tegukan air teh yang masuk ke kekrongkongannya.
Belum
selesai Ocu ajo menghabiskan lontong dan teh hangatnya, tiba tiba
datang seorang ibu muda berkulit gelap, ia menggendong seorang anak
kecil. Kira-kira anak tersebut baru berumur sekitar tiga tahunan. “
Hanya segini lakunya pak. Uangnya ini,” kata wanita tersebut. Wanita
tersebut mengatakan untuk hari ini saya bekerja sampai jam segini aja
pak..!. Karena dia harus mencuci pakaian tetangganya lagi.
Setelah ngobrol sebentar Ocu ajo memberikan duit kepada wanita tersebut dengan jumlah lima berlas ribu
rupiah.Dengan uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribu rupiah.
Sebenarnya saat itu, untuk waktu istirahat bagi seorang pekerja masih
pagi, kira kira saat itu jam 10 pagi.
Namun menurut Ocu ajo ia tak pernah membebankan kepada loper langganannya. “ Ibu itu tadi adalah seorang janda , ia memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai loper koran. Namun kadang- kadang ia dapat orderan mencuci baju dari tetangga,” kata Ocu ajo.
Namun menurut Ocu ajo ia tak pernah membebankan kepada loper langganannya. “ Ibu itu tadi adalah seorang janda , ia memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai loper koran. Namun kadang- kadang ia dapat orderan mencuci baju dari tetangga,” kata Ocu ajo.
Biasanya
ibu tersebut bila mendapat orderan mencuci ia bekerja sebagai loper
koran hanya sebentar. Sekitar jam 9 atau 10 pagi. Selain ibu rumah
tangga banyak juga mahasiswa
dan pelajar yang berlangganan dengan Ocu ajop. Menurut Ocu ajo ada satu
orang mahasiswa dan satu orang pelajar SMK yang berlangganan denga Ocu
ajo, untuk menjadi loper koran. Mereka sekolah dengan biaya mereka
sendiri. Anak SMK yang jadi loper denganm Ocu ajo tersebut menurut Ocu ajo mempunyai keinginan untuk sekolah yang kuat. Dia berasal dari golongan ekonomi tidak mampu.
Biasanya
menurut Ocu ajo, pelajar dan mahasiswa yang berlanggan menjadi loper
koran kepadanya. Mempunyai cara tersendiri untuk menjual koran tersebut.
Ada yang menitipkan kekantin, kesekolah, atau kekantor sebelum mereka
pergi kesekolah atau ke kampus .
Sebagain
agen koran Ocu ajo tak pernah mempermasalahkan hal itu. “ Namun, sore
harinya mereka harus menyerahkan kembali berapa koran yang tak laku
sekaligus dengan uangnya. Laportan lah, ” canda Ocu ajo.
Tapi
hal terpenting yang sangat dirasakan Ocu ajo selain wawasan nya
bertambah. Dia juga bisa membuka lapangan pekerjaan. Dan membantu banyak
orang yang tak bekerja menjadi bekerja. Namun ketika ditanya berapa
penghasilan nya dalam sebulan. Ocu ajo enggan mengatakannya. “ Nanti
kamu bisa jadi saingan bapak..!, ha...ha... Yang jelas cukuplah untuk
memenuhi kebutuhan sehari hari,” canda Ocu ajo. Memang selama ini
menurut Ocu ajo berprofesi sebagai Agen koran sering diremehkan oleh
banyak orang.######Saan
0 komentar:
Posting Komentar